Skip to main content

Full text of "ebook tauhid dan jihad_1"

See other formats


»11110 



V 



Ull 

illl 



\J 



M 



a 



(semoga Alloh Merahmati beliau dan menerima beliau 
sebagai shuhadaa) 




TAK AKAN KUBIARKAN BUUI U GEROG0TI. 

SEUGI AKU MASM HDUP ! 



Forum Islam Al-Tawbah 



JUDULASLI : 

AYANOUDHU 'D-DIIN WA ANA HAYY ... 



OLEH : 

ASY-SYAHID SYAIKH ABU MUSH'AB AL-ZARQOWI RAHIMAHULLOH 



JUDULTERJEMAHAN : 

TAK AKAN KUBIARKAN ISLAM Dl GEROGOTI, SELAGI AKU MASIH HIDUP ! 



ALIH BAHASA : 

AL-AKH ABU HAFS AS-SAYYAR 




FORUM ISLAM AL-TAWBAH 

www.altawbah.net/vb 



Semoga Alloh Jalla wa 'Alaa membalas kebaikan orang yang 
menyebar buku ini tanpa merubah isinya dan tidak 
mempergunakannya untuk kepentingan komersil kecuali seijin 
Publisher, pergunakanlah untuk kepentingan kaum Muslimin ! 



Kata Pengantar Publisher 

BismillahirrohmanirrohTm 

Segala puji bagi Alloh yang telah berfirman : dan Perangilah 
Mereka sehingga tiada lagi fitnah, dan dien ini semata-mata 
hanya untuk Alloh. . . 

Sholawat dan salam ke atas panglima para Mujahidin dan imam 
orang-orang yang bertaqwa, yang telah bersabda Aku 
diperintahkan memerangi manusia sampai mereka bersaksi tiada 
llah kecuali Alloh, dan aku Muhammad utusan Alloh... 

Buku yang kami hadirkan ke tengah antum semua ikhwati fillah, 
adalah buku yang kami terjemahkan dari ceramah Komandan 
yang gagah berani, Panglima yang cerdas, teladan yang baik 
didalam medan Jihad pada zaman sekarang ini, Syaikh Mujahid 
Abu Mush'ab Al-Zarqawi -semoga Allah merahmati beliau dan 
menerimanya sebagai syuhada serta meletakkan beliau di jannah 
al-firdaws yang tertinggi-. sebuah ceramah yang 
menggambarkan kemarahan beliau atas sikap duduk dan 
berpangku tangan kita terhadap nasib Islam dan kaum muslimin 
yang terus dihinakan dan injak-injak kehormatannya. Beliau 
sejak awal hingga akhir ceramah ini, mengungkapkan betapa 
sedihnya dan kecewanya beliau kerana sikap lalai kita dari 
membela agama Alloh. 

Dan tentu saja, beliau dengan kata-katanya yang indah dan gaya 
bahasa yang tinggi, tak lupa untuk mengobarkan semangat 
kaum mukminin untuk berperang dan mempersembahkan harta, 
darah dan nyawa mereka dalam rangka menolong agama Alloh 
serta mengembalikan izzah kaum muslimin. 



Apalagi disaat api jihad sedang berkobar hebat, pertempuran 
belangsung dengan dahsyat antara tentara Ar-Rahman dengan 
tentara Syaithon pada masa sekarang ini, muncul sebuah syubhat 
baru yang di hembuskan oleh orang-orang yang duduk, syubhat 
ini bukan datang dari kaum murji'ah ataupun dari kaum yang 
berada di atas manhaj yang bathil, akan tetapi syubhat ini datang 
dari 'Ulama yang dianggap sebagai gurunya mujahidin. bahkan 
syubhat itu telah dihadirkan ketengah-tengah kita, yaitu pada 
sebuah buku yang berjudul Waqofaat ma'a Tsamroti l-Jihad 
yang ditulis oleh Syaikh Abu Muhammad al-Maqdisi -semoga 
Allah membebaskan dan memberi beliau hidayah. 

Kemudian buku tersebut diterjemahkan dengan judul yang 
menyakitkan dan kemudian diterbitkan dengan judul yang keji 
dan serampangan, yaitu "Mereka Mujahid tapi Salah Langkah". 
Kami menghimbau kepada semua orang yang terlibat dalam 
menyebarkan dan mengajarkan buku itu dengan cara apapun, 
agar memohon ampunan serta petunjuk kepada Alloh ta'ala, 
sesungguhnya kalian telah menyebarkan sesuatu yang kalian 
sendiri tiada ilmu tentangnya atau kalian memang pengekor 
"seorang tokoh" tanpa peduli dia salah atau benar. 

Terakhir semoga dengan hadirnya buku ini mampu menerangi 
jalan para pencari kebenaran. Semoga Allah membalas amal baik 
penterjemah dan semua orang yang terlibat menyebarkan buku 
ini. Segala yang benar hanyalah dari Alloh, segala kesalahan 
berasal dari hawa nafsu dan hasutan syaithon ke dalam diri kami. 

Wassalamualaikum 



Team Forum Islam Al-Tawbah 



TAKKAN KUBIARKAN ISLAM DIGEROGOTI, SELAGI AKU 

MASIH HIDUP! 



1 Jumada Ats-Tsani 1426 H 
7 Juli 2005 M 

Syaikh Abu Mush'ab Al-Zarqawi $fe 



Segala puji bagi Alloh, yang memuliakan Islam dan pertolongan- 
Nya. Yang menghinakan kesyirikan dengan kekuatan-Nya. Mengatur 
semua urusan dengan perintah-Nya. Mengulur batas waktu bagi 
orang-orang katir dengan makar-Nya. Yang mempergilirkan hari- 
hari bagi manusia dengan keadilan-Nya, dan menjadikan hasil akhir 
sebagai milik orang-orang bertakwa dengan keutamaan-Nya. 

Sholawat dan salam terhatur selalu kepada Nabi Muhammad, 
manusia yang dengan pedangnya Alloh tinggikan menara Islam. 

Ammd ba 'du. . . 

Sesungguhnya Alloh menciptakan segenap makhluk-Nya dengan 
tingkat semangat yang berbeda-beda. Ada yang semangat 
membawanya terbang hingga ke langit, dan yang semangatnya kerdil 
sehingga membuatnya lebih cenderung kepada dunia. 

; itu menempati bumi dengan turun menghampirinya, 

\ ini menempati langit dengan menaikinya 



Orang yang memiliki semangat tinggi, rela mengorbankan nyawa 
dan semua yang mahal demi meraih apa yang ia cita-citakan. 
Semakin mulia suatu jiwa dan semakin tinggi semangat, maka badan 
pun akan lebih banyak berpayah-payah dan sedikit bersikap santai. 



yang semangat hatinya tak tertampung oleh hati 

Jika itu ditampung oleh hati, tentu dada tak mampu menamp 

Orang yang bersemangat tinggi tidak pernah merasa kesepian 
dengan sedikitnya penempuh jalan, tidak peduli dengan sedikitnya 
orang yang selamat, tidak menggubris banyaknya orang-orang yang 
mentelantarkan, tidak peduli dengan pelanggaran orang-orang yang 
menyimpang. Hatinya tak kenal "menguap", tak kenal bersantai, tak 
kenal bertenang-tenang, tak kenal hidup bersenang-senang. 

Sedangkan orang yang bersemangat rendah, setiap kali tergerak 
untuk mendaki ketinggian dan menaiki derajat-derajat tinggi, setan 
langsung menutup hatinya dan mengikat ubun-ubunnya, seraya 
berkata: "Tidurlah, malam masih panjang." 

Setiap kali ia berusaha mengadakan peningkatan dengan 
semangatnya dan menyingkirkan kesalahannya, tentara-tentara 
pengacau dan pembawa angan-angan langsung menyambut, jiwanya 
yang sering memerintahkan kepada maksiat berseru: "Apakah kamu 
lebih hebat daripada kenyataan?" 

Ketika seorang manusia "runtuh", ia akan meluncur ke lembah 
terdasar yang belum pernah dicapai oleh makhluk lain, di kala hewan 
pun lebih tinggi dan lebih lurus darinya. Ketika ia tenggelam 
bersama hawa nafsunya menuju lembah dasar yang binatang pun tak 
mampu untuk tenggelam di dalamnya. Jika ghiroh terhadap dirinya 
dan terhadap hal-hal yang diharamkan Alloh telah padam, ketika 
itulah seseorang menjadi lebih rendah daripada binatang ternak. 



; mau diberdirikan di atas kehinaan dengan sengaja 

Selain orang-orang hina danpasak 

Yang ini seluruh tubuhnya terikat tali 

Yang itu dibalut hingga tidak seorangpun mengenalinya 

Para pendahulu kita yang sholeh telah berhasil meraih keunggulan 
dalam mewujudkan semangat dan cita-cita yang tinggi. Mereka telah 



memberikan andilnya pada setiap pintu bagian dari Islam ini, mereka 
ambil bagian dalam setiap keutamaan. 

Di dalam ibadah; engkau tidak melihat mereka melainkan sebagai 
orang-orang yang senantiasa ruku' dan sujud, khusyu', menangis dan 
tunduk patuh. 

Di dalam mencari ilmu; mereka rela berpisah dengan isteri dan anak, 
berpindah dari satu negeri ke negeri lain, mereka tinggalkan 
nikmatnya tidur, dan mereka jual barang berharga. 

Adapun dalam jihad; maka itu adalah perbincangan yang 
mengharukan, sebab ketika mereka melihat jihad memiliki 
keutamaan yang tak tertandingi, memiliki kebaikanyang tak pernah 
habis, jiwa mereka terbang menyongsongnya, semangat mereka 
meletup untuk meraihnya. Mereka pun menyingsingkan lengan baju 
untuk berjihad dengan serius, mereka berangkat memerangi orang- 
orang kafir dan para pembangkang. Mereka siapkan pasukan dan 
detasemen-detasemen. Mereka korbankan harta dan segala 
kepemilikan mereka untuknya. Mereka jual nyawa untuk 
dipersembahkan kepada Penciptanya, maka sungguh pantas jika 
Alloh membalas mereka dengan surga-surga nan tinggi. 

Sejarah kita telah mencatat situasi-situasi dan kisah-kisah seperti ini, 
yang semuanya menunjukkan betapa tinggi semangat dan cita-cita 
yang mereka miliki. 

Ketika terjadi ritnah mani'u^ ^akdt, suasana kacau dan ujian yang 
berat muncul. Masalah ini terlihat meragukan, bahwa di kalangan 
tokoh-tokoh Shahabat Nabi. Maka, dengan tegas Abu Bakar Ash- 
Shiddiq giS menyatakan sikapnya: "Demi Alloh, aku tidak akan 
membeda-bedakan antara sholat dan zakat, sungguh akan kuperangi 
orang yang membeda-bedakan antara keduanya." 

Umar gil berkata: "Akhirnya kami berperang bersamanya, dan kami 
pun tahu bahwa ia benar." 

Diriwayatkan dari Abu Roja Al-'Uthoridi ia berkata: "Aku masuk ke 
kota Madinah, maka kulihat orang-orang sedang berkumpul. 



Kemudian aku melihat seseorang mengecup kepala seseorang sambil 
berkata: 'Aku menjadi penebusmu, kalau bukan dikarenakan kamu 
tentu kami semua sudah binasa.' Aku pun bertanya: 'Siapa orang 
yang mencium dan siapa yang dicium?' orang-orang memberitahu 
itu adalah Umar mencium kepala Abu Bakar karena perang yang ia 
lancarkan kepada orang-orang murtad yang tidak mau membayar 
zakat, hingga akhirnya mereka kembali mau membayarnya dengan 
keadaan hina.'" 

Dan dari Ummul Mukminin, Aisyah tg| , berkata: "Ketika Nabi $H 
wafat, Abu Bakar gg8> harus memikul beban yang sekiranya beban 
itu ditimpakan kepada gunung pasti gunung itu akan hancur. 
Kemunatikan merajalela di Madinah, bangsa Arab berbalik menjadi 
murtad. Demi Alloh, tidaklah mereka berselisih dalam sebuah 
permasalahan kecuali Abu Bakar datang menentukan apakah itu 
harus ada atau tidak di dalam Islam." 

Ketika itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq, berdiri sekokoh gunung — ayah 
dan ibuku menjadi penebusnya — yang menjulang sebagai benteng 
pembendung arus kemurtadan. Berteriak dari hatinya yang paling 
dalam dengan penuh tawakkal kepada Robbnya: "Wahyu telah habis, 
Islam telah sempurna, ajanqudhu ^d-din wa ana hajj ?" 

Ajanqudhu ^d-din wa ana hajj... sungguh sebuah kalimat agung yang 
keluar dari lisannya, terungkapkan dari hatinya. Sebuah kalimat yang 
menggariskan jalan yang jelas yang harus ditempuh oleh siapapun 
dari umat ini. Semangat yang tinggi. Keteguhan tawakkal. Kokoh di 
atas kebenaran. 

Ajanqudhu ^d-din wa ana hajj... kalimat yang dinyatakan dengan sikap 
oleh imam Ahlus Sunnah wal Jamaah, Ahmad bin Hanbal Asy- 
Syaibani $&; Ash-Shiddiq kedua, ketika ia berdiri sekokoh gunung 
menjulang di saat badai titnah kholqul Quran menerpa. Melaluinya 
Alloh menyingkap mendung, melaluinya AUoh selamatkan umat. 



1 Terjemahan bebasnya kurang lebih: "Takkan kubiarkan agama ini tergerogoti, 
selagi aku masih hidup." 



Ajanqudhu ^d-din wa ana hajy. . . dicontohkan oleh syaikhul Islam Ibnu 
Taimiyah 4'M ketika ia berdiri membakar semangat umat untuk 
melawan pasukan Tartar. Karena kejujuran tawakkalnya kepada 
Alloh dan yakinnya akan janji-Nya, ia sampai bersumpah dengan 
nama Alloh tanpa istitsna: "AUoh pasti menolong kaum muslimin 
mengalahkan pasukan Tartar." Ada yang menegumya: "Katakanlah 
Insyd Alloh." Ia berkata: "Sebagai kepastian, bukan ketidak pastian." 
Akhirnya Alloh mengusir serangan Tartar dan memukul mundur 
mereka dalam keadaan rugi. 

Ajanqudhu ^d-din wa ana hajj. . .kalimat yang diteriakkan oleh Syaikhul 
Islam Muhammad bin Abdul Wahhab 4'M, beliau berkeliling ke 
berbagai negara seperti seorang ibu yang kehilangan anaknya, kedua 
matanya bercucuran air mata sambil berseru: "Duhai, kasihan Islam. 

Duhai, kasihan Islam." 

Sungguh, kesedihan dan musibah-musibah itu mampu memicu 
semangat dan melahirkan para pembesar. Jika bukan musibah dan 
kepedihan-kepedihan yang membuat kita termotivasi dan 
bersemangat tinggi, lantas apa yang membuat kita berdiri tegak? Apa 
yang akan membangungkan kita? 

Betapa agung agama Islam ini, sekiranya dipegang oleh orang-orang 
besar. 

Lihatlah, para penyembah salib itu telah menajisi kitab Robb kita 
dan melemparkannya ke dalam kakus-kakus mereka dengan diiringi 
sebuah perencanaan yang matang, dalam rangka menghancurkan 
kesakralan sesuatu yang dianggap suci oleh umat ini. Lihadah, 
manusia-manusia keturunan kera dan babi, serta kaum Hindu 
penyembah sapi, telah berani berbuat lancang lalu melakukan 
perbuatan seperti perbuatan mereka. 

Duhai, menyedihkan kondisi umatku. Jika putera-puteranya tidak 
bangkit membalas serangan yang dilancarkan kepada kitab Robb 
mereka, lalu kapan mereka bangkit? Kapan mereka bangun? Jika 
realita dan musibah seperti ini tidak membuat mereka tergerak, lalu 
apa yang membuat mereka tergerak? 

8 



Hampir-hampir hujan batu dari langit menimpa kita, kita meminta 
pertolongan dari Robb kita tapi kita tidak marah ketika kesucian 
kitab-Nya dilanggar. 

Sesungguhnya para penyembah salib itu telah menganeksasi negeri- 
negeri kita, mereka langgar kesucian-kesucian kita, mereka perkosa 
kehormatan-kehormatan kita, mereka rampas harta kekayaan kita, 
dalam sebuah batalyon salib terbesar dalam sejarah kita dewasa ini. 
Lantas apakah yang ditunggu oleh putera-putera umat ini? Kapan 
mereka bangun dari tidur? 

Duhai, menyedihkan...bagaimana semangat umat ini redup — kecuali 
orang-orang yang dirahmati Alloh — , lalu rela dengan sikap 
berpangku tangan daripada membela agama ini dan melindungi 
kehormatan kaum muslimin? 

Sungguh besar kemelaratan ini, sungguh besar kerugian seperti 
ini...suatu kaum yang "pasar kesyahidan" digelar di negeri mereka, 
kendaraannya diderumkan di depan pintu mereka, tapi mereka 
masih saja tenggelam dalam tidurnya, mereka tak kunjung berhenti 
dari perbuatan main-mainnya. 

Namun demikian, sepanjang sejarah Sunnatulloh tetap menentukan 
adanya hamba-hamba Alloh pilihan-Nya yang mengangkat panji 
agama ini, lalu menyampaikannya ke seluruh dunia. Nabi *1§ 
bersabda: 

"Akan selalu ada satu kelompok dari umatkujang unggul di atas kebenaran, 
tidak terpengaruh oleh orangjang mentelantarkan mereka, hingga tiba 
ketetapan Alloh. " 

Maka terdengarlah seruan-seruan perang dari sana sini: "Wahai kuda 
Alloh, berangkatlah." "Wahai panji Alloh, naiklah." "Wahai para 
pengusung bendera, bangkitlah." 



Seruan ini pun disambut oleh umat Islam yang mau menyambut. 
Mereka sambut seruan ini, mereka berangkat untuk berperang, 
mereka kibaskan debu kehinaan dan kotoran kenistaan. Mereka 
bangkit meninggalkan dunia dan kemewahannya di belakang mereka, 
mereka berangkat berperang meninggalkan keluarga, kampung 
halaman dan harta benda. Masing-masing punya cerita sendiri, 
masing-masing punya pengalaman pahit sendiri. Rambut mereka 
kusut. Kepala mereka berdebu. Jumlah mereka sedikit. Persenjataan 
mereka lemah. Tapi...hati mereka dipenuhi rasa cinta kepada agama 
ini. Jiwa mereka rindu bersanding di sis Robbul 'Alamin. Mereka 
jujur kepada Alloh maka Alloh pun membenarkan janji-Nya kepada 
mereka. Maka mereka timpakan kekalahan demi kekalahan dan siksa 
demi siksa kepada para penyembah salib itu, mereka luluh lantakkan 
nama besar mereka, mereka hancurkan kekuatan mereka. Alloh 
munculkan karomah-karomah melalui tangan-tangan mujahidin yang 
sudah bukan menjadi rahasia lagi bagi siapa pun yang memiliki mata. 

Ketika orang-orang Bani Ashfar menyadari betapa besar bahaya 
yang mereka tengah terperosok di dalamnya saat ini, begitu juga 
besarnya kerugian dan korban di fihak mereka, mereka pun 
mengambil langkah cepat membentuk pasukan Garda Nasional (al- 
Haros al-watsani?) untuk menjadi tameng pelindung kaum salibis 
sekaligus menjadi tangan untuk memukul mujahidin. Maka pentas 
ujian dan penyaringan kembali digelar. Seruan mereka ditanggapi 
oleh mereka yang bersemangat rendah dan rela menjual agama dan 
akhiratnya, hukum yang diberlakukan mujahidin terhadap orang- 
orang seperti ini sangatlah jelas, tidak ada kesamaran di dalamnya, 
yaitu wajib memerangi dan berjihad melawan mereka karena mereka 
telah murtad dari Islam dan loyal kepada tentara Salibis. Status 
mereka ini terlihat samar oleh sebagian orang yang digelari ulama, 
apalagi jika di pandangan orang-orang awam. Akibatnya, "ulama" 
tadi mengeluarkan fatwa tentang tidak bolehnya memerangi mereka 
demi menjaga tertumpahnya darah sesama rakyat Irak. Dan sungguh 
ini merupakan bahaya yang sebenarnya yang menimpa banyak sekali 
organisasi-organisasi Islam di zaman sekarang. Bahaya itu adalah: 
Pembedaan antara musuh asing dan musuh lokal; kalau musuh 

10 



asing, maka umat boleh bangkit untuk memeranginya, segala 
kekuatan boleh dihabiskan untuk berjihad melawannya, hingga jika 
musuh itu sudah keluar lalu mengangkat wakilnya dari kalangan 
orang-orang murtad dari bangsa kita sendiri, yang berhukum dengan 
hukumnya, yang memukul dengan cambuknya, maka haram bagi 
umat untuk memerangi dan berjihad melawan mereka, sekejam 
apapun mereka. 

Jika musuh itu berambut pirang bermata biru, wajib memeranginya. 
Adapun jika musuh berkulit coklat bermata hitam, maka ini tidak 
halal untuk diperangi. 

Demi Alloh perang seperti ini adalah perang kaum nasionalis, bukan 
perangnya ahli tauhid. Perang orang yang menginginkan dunia, 
bukan menginginkan akhirat; 

{p\ J h\'J ^ }\ °^j\ ^ > ^j^} 

"Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musjrikin) lebih baik dari mereka 
itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari a%ab) 
• Kitab-kitabjang dahulu?" (QS. Al-Qomar: 43). 



Kaum murtaddin itu tidak mendasari pembentukan tentara mereka 
selain untuk memerangi agama Alloh 1§, agar menjadi pemukul 
orang-orang ikhlas dari umat ini. Bukti paling riil dari hal itu adalah 
operasi rutin yang mereka lancarkan untuk menghabisi kaum Sunni, 
seperti Operasi Halilintar, Operasi Tombak, Operasi Pisau, Operas 
Pedang. . .dan lain-lain. 

Tentara ini; kami tak pernah mendengar gaungnya selain ketika 
memerangi orang-orang beriman dan tentara-tentara Ar-Rohman. 

Lihadah aksi mereka di Pakistan terhadap mujahidin Arab dan 
Afghan. 

Di Yordania; terhadap orang-orang terbaik di kalangan penduduk 
Ma'aan. 



11 



Di Riyadh, Al-Qoshim, Mekkah; terhadap para pemegang ajaran 
tauhid yang benar. 

Setelah itu, terhadap orang-orang kafir mereka justeru bersikap baik, 
terhadap orang-orang jahat mereka melunak. 

Kami tegaskan: Sesungguhnya tentara Irak adalah tentara murtad 
dan pengkhianat yang setia kepada orang-orang salibis. Tentara ini 
lahir untuk menghancurkan Islam dan memerangi kaum Muslimin. 
Maka kami akan memeranginya seperti ketika umat Islam 
memerangi pasukan Tartar yang datang dengan pasukan berkuda 
dan pejalan kakinya meskipun mereka menyatakan dua kalimat 
syahadat. Bahkan di tengah pasukan mereka ada imam-imam masjid 
dan para muadzin, di antara mereka ada yang sholat dan puasa, di 
mana ini membuat manusia ragu-ragu, membuat para ulama 
kebingungan, bagaimana mereka diperangi sementara mereka 
mengaku umat Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat? 
Hingga akhirnya Alloh munculkan di tengah badai ujian ini seorang 
"mentari penerang" Umat, yang menjadi salah satu menara pemberi 
petunjuknya: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah $fe. Beliau 
mengeluarkan fatwa tentang murtadnya pasukan Tartar, wajibnya 
memerangi mereka karena keengganan mereka berhukum dengan 
syariat Alloh dan penyimpangan mereka dari Al-Quran kepada 
hukum Ilyasiq karangan Jengis Khan, hukum yang di dalamnya ia 
menggabungkan antara hukum-hukum Taurat, Injil dan Quran, 
ditambah dengan tradisi-tradisi bangsa Tartar, persis seperti undang- 
undang rezim-rezim Arab di zaman sekarang. 

Di antara ucapan Syaikhul Islam adalah: "Orang-orang yang 
ditanyakan dalam soal, balatentara mereka terdiri dari orang-orang 
kafir baik kristen maupun kaum musyrik, begitu juga orang-orang 
yang masih mengaku Islam dan ini mayoritas; mereka mengucapkan 
dua kalimat syahadat jika diminta untuk itu, mereka menghormati 
Rosululloh, namun yang sholat di antara mereka hanyalah sedikit, 
yang puasa jumlahnya agak lebih banyak daripada yang sholat, orang 
Muslim dalam pandangan mereka lebih dihormati daripada non- 
muslim, orang muslim yang sholeh pun lain kedudukannya di sisi 

12 



mereka...dst" hingga beliau mengatakan: "...memerangi kelompok 
jenis ini adalah wajib berdasarkan ijmak kaum Muslimin; orang yang 
mengerti Islam dan mengerti hakikat mereka tidak akan meragukan 
hal ini, sebab kedamaian yang mereka anut dan agama Islam ada dua 
hal yang tidak mungkin bertemu sampai kapanpun." 

Beliau berkata lagi: "Jika para salaf menyebut orang-orang yang tidak 
mau membayar zakat sebagai kaum murtaddin -padahal mereka jelas 
puasa dan sholat — dan mereka tidak memerangi kesatuan kaum 
Muslimin, lalu bagaimana dengan orang yang telah menjadi musuh 
Alloh dan Rosul-Nya, dan memerangi kaum Muslimin?!" demikian 
perkataan beliau $te. 

Kami sudah memprediksi sebelumnya dengan yakin bahwa ketika 
kami memerangi tentara murtad, kami akan menuai protes bahkan 
kemarahan yang besar dari para umat Islam yang tidak faham. Sebab 
dengan pandangan sempitnya mereka mengatakan: bagaimana 
seorang mujahid memerangi saudaranya sendiri, keponakannya dan 
orang yang masih sedarah dengannya? 

Mereka tidak menyadari bahwa Nabi *1§ dulu pertama-tama 
memerangi orang yang menjadi batu penghalang Islam dari kalangan 
kaumnya sendiri, sebelum beliau memerangi Bani Ashfar (Romawi). 
Jalan ini juga ditapaki oleh para shahabat g sepeninggal beliau. 

Abu Ubaidah bin Jarroh, ia membunuh bapaknya sendiri dalam 
perang Uhud. 

Mushab bin Umair, ia membunuh saudaranya, Ubaid bin Umair, 
juga dalam perang Uhud. 

Umar bin Khothob, ia membunuh pamannya, Al-Ash bin Hisyam, 
dalam perang Badar. 

Ali, Hamzah dan Ubaidah bin Harits, mereka membunuh 
Utbah-Syaibah putera Robi'ah dan Walid bin Utbah, dalam perang 
Badar. Tentang mereka inilah kemudian turun firman Alloh Ta'ala: 



13 



( o $ /s / o £ o J> -- -- o o £ o J> ^-0* £ Jt ,™ Jl ^». .,- JI , $ / s 

iri-^jy^ J' r»-^^* 1 ! J' <»-**■ ^' J' (*-*s-4' 'jJ^S jJj 4jj^,jj 

"Kamu tak akan mendapati kaum jang beriman pada Alloh dan hari 
akhirat, saling berkasih-sajang dengan orang-orangjang menentang Alloh dan 
Rosul-Nja, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau 
saudara-saudara ataupun keluarga mereka. " (QS. Al-Mujadilah: 22). 

Sebagian dari mereka datang membawa klasifikasi baru mengenai 
jihad di Irak, yang belum pernah ada sebelumnya, dengan 
mengatakan: "Aksi perlawanan (muqowamah) -kami sangat menjaga 
penggunaan istilah ini — itu ada dua macam: perlawanan yang mulia, 
yaitu perlawanan kaum kafir penjajah, dan perlawanan yang tidak 
mulia yaitu memerangi rakyat Irak, siapa pun orangnya." 

Maka kami tegaskan kepada mereka: yang kami ketahui dari agama 
kami, bahwasanya Nabi *!§ bersabda: 

"Siapa berperang dengan tujuan agar kalimat Alloh menjadi jang tertinggi, 
maka ia (berperang) dijalan Alloh. " 

Aksi perlawanan yang mulia adalah berperang di atas perintah 
Alloh, hingga tidak adafitnah dan agama itu seluruhnja menjadi milik Alloh 
(Al-Anfal [8]: 39), bukan perlawanan yang mensyaratkan jika musuh 
asing sudah menarik pasukannya maka harus berhenti melawan, 
walaupun musuh asing itu mengangkat rezim boneka yang 
berhukum dengan selain syariat Alloh, loyal kepada musuh-musuh- 
Nya dan memusuhi wali-wali-Nya, lalu kita bergabung di bawah 
benderanya tanpa merasa ada yang keliru. 

Aksi perlawanan yang mulia adalah yang mengorbankan darah 
putera-puteranya, mengorbankan segala yang mahal dan berharga, 
menghadapi resiko berbagai siksaan, sementara semboyan 
penyemangat mereka adalah: "Ya Alloh, ambillah darah-darah kami 

14 



hari ini supaya Engkau ridho," "Ya Alloh, bangkitkan jasad kami 
dari perut-perut burung nasar dan binatang buas." Bukan 
perlawanan yang ingin selamatnya saja, yang berperang di atas 
prinsip meraih kepentingan pribadi, yang melancarkan aksi-aksinya 
agar musuh penjajah memperbaiki situasi kehidupannya dan 
membukakan pintu baginya untuk ambil bagian dalam kancah 
politik sebesar-besarnya. 

Aksi perlawanan yang mulia adalah yang tauhidnya murni bagi 
Alloh saja, yang mencintai karena Alloh dan Rosul-Nya walaupun 
kepada manusia yang terjauh hubungannya, serta memusuhi karena 
AUoh dan Rosul-Nya walaupun kepada manusia yang paling dekat 
hubungannya. 

Kalaulah nasab berbeda, kita disatukan oleh 

Agama, kita menganggapnya seperti ajah saja 

Ada seseorang dari kaum muslimin berkata kepada Kholid bin Sa'id 
agM -ketika ia bersiap-siap berangkat perang bersama Abu 
Ubaidah — : "Jika kamu berangkat bersama sepupumu, Yazid bin 
Abu Sufyan, tentu itu lebih baik daripada berangkat bersama yang 
lain." Maka Kholid berkata: "Sepupuku lebih kucintai daripada Abu 
Ubaidah dari sisi kekerabatan. Sedangkan Abu Ubaidah lebih 
kucintai daripada sepupuku dari sisi agamanya, dia adalah saudaraku 
seagama di zaman Rosululloh j|§ masih hidup, ia adalah setia dan 
menolongku ketika aku memerangi sepupuku sebelum hari ini, maka 
aku lebih merasa nyaman dan tenang bergabung bersamanya." 

Aksi perlawanan yang mulia adalah yang menjadikan jihadnya 
sebagai jihad alami (jihad global, mendunia), tidak terikat oleh warna 
kulit, darah, atau negeri. Sebab orang-orang beriman itu adalah umat 
yang satu, darah mereka sama nilainya, mereka adalah penolong satu 
sama lain; 

' I ""t* f * * * o/3 / o $ . / t * o $ . / 



15 



"Dan orang-orang jang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka 
(adalah) menjadi penolong bagi sebahagian jang lain..." (At-Taubah [9]: 

71). 

ry*2j (j i!^xj L«j 4JJI « (.Ju^ 

". . ./z/fez mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) 
agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum 
jang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Alloh Maha 
Melihat apajang kamu kerjakan. " (Al-Anial [8]: 72), bukan perlawanan 
semu yang menganggap garis-garis teritorial yang ditetapkap 
berdasarkan perjanjian Sieks-Piccot sebagai titik awal dari cita-cita 
dan jihad yang dilancarkannya. 

Dulu Abu 'd-Darda' tinggal di Damaskus sedangkan Salman ggg 
berada di Irak. Maka suatu ketika Abu "d-Darda' menulis surat 
kepada Salman: "Datanglah ke negeri yang disucikan." Maka Salman 
membalas suratnya: "Suatu negeri tidaklah menjadikan suci 
siapapun, yang menjadikan seseorang suci hanyalah amal 
perbuatannya." 

Aksi perlawanan yang mulia adalah perjuangan yang diwarnai 
oleh luka-luka, hilangnya anggota, berkurangnya logistik 
persenjataan, tapi tetap bangkit dan menguatkan diri seraya 
bertawakkal kepada Robbnya. Tidak memohon perlindungan kecuali 
hanya kepada-Nya. Sebagaimana yang dilakukan Nabi «§§ dan para 
shahabatnya dalam perang Hamro'u TAsad. Bukan perjuangan yang 
apabila terkena sebuah tragedi atau musibah, lalu menjadi merasa 
sendiri dan meminta bantuan kepada siapa saja yang mau 
mengulurkan bantuan kepadanya, walaupun dari orang yang 
menentang Alloh dan Rosul-Nya. 

Aksi perlawanan yang mulia adalah yang bertujuan mulia dan 
tinggi, yang bertujuan syar'i dan besar. Oleh karena itu, cara yang 
dipakai pun syarii, sesuai petunjuk Al-Quran dan Sunnah; bukan 

16 



perlawanan yang memiliki prinsip "tujuan menghalalkan segala cara" 
sehingga tidak masalah berkoalisi dan bekerjasama dengan orang 
yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, yang penting sebagian dari 
kepentingan dan tujuannya tercapai. 

Orang-orang yang mereka bilang sebagai para gerilyawan 
"perlawanan yang tidak mulia" itu, justeru merekalah yang berjihad 
di jalan Alloh sejak lebih dari dua tahun terakhir. Mereka telah 
mengorbankan segala yang berharga yang mereka miliki demi 
terangkatnya kemuliaan agama ini. Mereka telah mempersembahkan 
ulama-ulama mereka, para komandan mereka dan kader-kader 
mereka sebagai tumbal. 

Di atas bahu siapakah pertempuran di Qo'im bisa tegak? 

Darah siapakah yang mengalir di Rammadi, Fallujah, dan Haditsah? 

Leher siapa yang terpenggal di Talla'far dan Moushil? 

Nyawa siapa yang tercabut dalam pertempuran-pertempuran 
Baghdad, Diyala dan Saamirro'? 

Siapa yang melaksanakan semua ini kalau bukan anggota-anggota 
Tandzim Al-Qaeda, baik yang Muhajirin maupun Anshor dan 
mujahid-mujahid lain yang jujur, para pemegang manhaj yang bersih, 
yang bertekad untuk tak menanggalkan senjata selagi masih ada pada 
mereka mata yang berkedip dan nadi yang berdetak. 

Kemudian, salah satu yang membuat hati ini semakin sedih 
dan pilu; adalah adanya sebagian ulama yang menurut kami 
adalah orang-orang jujur dan cinta kepada jihad dan 
mujahidin. Ada di antara mereka yang mengirim surat dan 
menasehati aku agar tidak "mencari mati" dengan terus 
berperang di Irak, dan jangan mengkonsentrasikan energi 
umat Islam untuk perang ini saja. 2 



2 Termasuk yang 'Ulama mengatakan ini adalah Syaikh Abu Muhammad al- 
Maqdisi, silahkan lihat dalam lampiran kami "Koreksi Syaikh Mujahid al- 
Zarqowi atas Pernyataan Syaikh al-Maqdisi" 

17 



Alloh Maha Tahu, betapa aku sangat sedih dan pilu 
mendengar perkataan mereka ini. Inikah keadaan yang telah 
dialami umat kita? 

Inikah ketulusan ulama kita yang diberikan kepada kita? 

Sampai kapan para ulama berpaling dari front-front jihad? 
Mereka menyampaikan hukum-hukumnya, mengeluarkan 
nasihat-nasihatnya, tapi jauh dari kehidupan nyata yang 
dialami umat. Sebab, penilaian yang benar itu harus didasari 
oleh, tidak hanya ilmu syar'i, tapi juga pengetahuan tentang 
realita. 

Sayyid Quthub $fe berkata: 

"Sesungguhnya pemahaman mengenai agama ini tidak muncul 
melainkan dari dunia pergerakan, ia tidak diambil dari orang fakih 
yang berpangku tangan ketika pergerakan menjadi keharusan, yang 
hanya berkutat pada buku dan lembaran-lembaran kitab di zaman 
sekarang untuk menyimpulkan berbagai hukum fikih, mereka 
memperbarui fikih Islam dengan simpulan tersebut atau 
mengembangkannya namun mereka jauh dari pergerakan yang 
bertujuan membebaskan umat manusia dari penghambaan kepada 
sesama manusia menuju penghambaan kepada Alloh saja, dengan 
menjadikan syariat Alloh saja sebagai hukum dan menolak semua 
undang-undang thoghut. Mereka itu tidak memahami tabiat agama 
ini. Sehingga, mereka tidak memiliki kelayakan untuk menentukan 
fikih agama ini." 

Jika jihad yang kita alami sekarang ini jihad tholab dan ada beberapa 
benteng pertahanan Bani Ashfar yang membahayakan mujahidin tak 
kunjung mampu kita taklukkan, tentu kita katakan: ada kelonggaran 
dalam hal ini. Namun, kita sekarang sedang melancarkan perang 
pembelaan (difa') terhadap umat kita, terhadap agama kita, dari 
musuh yang paling berbahaya yang pernah menyerang negeri kaum 
Muslimin di zaman sekarang. Mereka melanggar kesucian-kesucian, 
menjajah negeri, merampas harta kekayaan dan sumber kekayaan 
alam, penjara mereka penuh dengan kaum muslimin baik laki-laki 

18 



maupun perempuan, bahkan...rahim-rahim muslimat telah dipenuhi 
oleh sperma-sperma kotor mereka. 

Sesungguhnya, selagi umat ini masih mau mengorbankan orang- 
orang yang dicintainya, menumpahkan darah putera-puteranya, demi 
membela agama ini, maka umat ini masih dalam keadaan baik. 
Namun jika umat ini sudah mulai "bakhil" mengorbankan darah 
putera-puteranya dalam rangka meninggikan kalimat Alloh, maka 
bangsa-bangsa lain akan mengeroyoknya, ia akan tertimpa kenistaan 
dan kehinaan dan dikuasai oleh manusia-manusia yang paling hina. 
Sejauh mana mujahidin maju memerangi musuh mereka dan 
menggapai kemenangan-kemenangan nyata, sejauh itu pulalah 
kedzaliman dan kabut ini tersingkirkan dari umat. Jika sebaliknya, 
maka sebaliknya juga. 

Kapankah kita pernah "mencari mati" dalam rangka membela 
kehormatan kaum muslimin dan muslimat? 

Apakah ketika tentara penyembah Salib nanti sudah memasuki 
Syam? Atau ke Mekkah dan Madinah, lalu mereka langgar 
kehormatan kita, lalu ketika itu kita baru berperang mencari mati?! 

Bagaimana dengan saudari-saudari kita di Irak yang tadinya terjaga 
dan suci kehormatannya, meminta perlindungan kepada Alloh dari 
kezaliman musuh-musuh-Nya di dalam sel-sel penjara mereka? 

Alloh Maha Mengetahui, bahwa bebasnya satu orang wanita Ahlus 
Sunnah di Irak secara umum dan di Fallujah secara khusus, itu lebih 
aku sukai daripada dunia seisinya. 

Demi Alloh, jika semua anggota Tandzim Al-Qaeda di Negeri Dua 
Anak Sungai habis demi membebaskan wanita-wanita dari penjara- 
penjara tentara salib dan Rahdhah yang pendengki itu, tentu kami 
tidak ragu sedikit pun untuk melakukannya. 

Bagaimana tidak, sedangkan Nabi jl§ bersabda: 



19 



"Bebaskanlah tawanan. " 

Bagaimana jika tawanan itu wanita yang tak berdaya? 

Bagaimana jika itu tawanan wanita yang diperkosa kehormatannya 
setiap pagi dan sore? 

Sungguh, menyesalkan sekali kondisi umat kita. Jika kita tidak 
mencari mati untuk keadaan-keadaan seperti ini, tolong jawablah 
aku— dengan nama Robbmu — : Kapan dan di mana kita hendak 
mencari mati?! 

Kombongan berlalu di tengah kumpulan baji-baji menjusui 

Dan di tengah kesedihan para ibujang kehilangan anaknja atau kerinduan 
cinta para perawan 

Dan di tengah para remajajang memancarkan air mata kehinaan 

Dan di tengah anak-anak kecil dan anak-anakjatim 

Kombongan berlalu menjeret langkah-langkahnja 

ganpenuh kehinaan, di atas durijang memuncratkan darah dan mencetak 



Uampir saja mata anak-anak kecil itu bertanja: Siapa aku? 

Ke mana aku haruspergi, wahai padangpasir: jawablah! 

Apakah kamu mengangkat di atas tanahmu rumah-rumah dan gereja orang- 
orang Kristen untukku? 

Dan membuka lahan-lahan kesjirikan atau rumah-rumah penawaran 

Supaja kamu cabutfitrah dan kesucian dariku, 

ImIu ditanamkan pada diriku kesjirikan danfitnah kemaksiatan? 

Logiskah jika umat terbaik yang pernah dilahirkan di tengah 
manusia, lebih kecil kecemburuan dan kemarahannya karena 
anggotanya ditawan daripada umat yahudi? 

Al-Qurthubi 4'M berkata: "Para ulama kami mengatakan: Alloh telah 
mengambil empat perjanjian dari orang-orang yahudi: tidak 

20 



berperang, tidak mengusir sesama yahudi dari negerinya, tidak 
membantu musuh, dan agar menebus tawanan. Maka mereka 
berpaling dari semua perintah ini kecuali satu, yaitu menebus 
tawanan. Karena perbuatan mereka ini, Alloh mencela mereka 
dengan celaan yang terus dibaca di dalam Al-Quran, tirman Alloh: 
". . .Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar 
terhadap sebahagianjang lain?" (Al-Baqoroh [2]: 85)." 

Saya — yakni Al-Qurthubi — katakan: "Sungguh demi Alloh, kita telah 
berpaling dari semua perintah itu dengan timbulnya banyak titnah, 
sebagian kita membantu musuh untuk memusuhi sesama kita yang 
lain, bukan musuh dari kaum muslimin sendiri tetapi dari orang- 
orang katir. Sampai-sampai kita tinggalkan saudara-saudara kita 
dalam keadaan hina dan rendah, mereka diatur oleh hukum orang- 
orang musyrik, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah." 

Sebagian ulama itu ada yang menginginkan agar kami 
menghentikan jihad kami di Irak (negeri Dua Sungai), dengan 
menyatakan bahwa jihad di Irak adalah jihad nikayah, bukan 
jihad tamkin. Sebab dengan jihad seperti itu, siapa yang akan 
memetik buah dari jihad penuh berkah ini, dan siapa yang 
akan naik ke panggung kekuasaan yang dihantarkan oleh 
darah-darah mujahidin? 3 

Maka kami katakan: Sesungguhnya Alloh 9H telah mewajibkan 
kepada hamba-hamba-Nya agar mengikuti perintah-Nya dan 
mempraktekkan syariat-Nya. Alloh tidak menyuruh mereka 
beribadah dengan sesuatu yang tidak tampak dan tersembunyi dari 
mereka. Dan sesungguhnya AUoh 1B telah memerintahkan kepada 
kita untuk memerangi orang-orang katir sampai tidak ada fitnah dan 
agama ini seluruhnya menjadi milik Alloh, ini adalah tujuan dalam 
jihad tholab, lalu bagaimana jika keadaannya seperti yang kita alami 
sekarang? Musuh telah menyerang kita. AUoh Ta'ala bertirman: 



3 Salah satu 'Ulama yang di maksud beliau adalah Syaikh Abu Muhammad al- 
Maqdisi, antum bisa check di dalam kitabnya Waqofaat ma 'a Tsamroti l-Jihad 
renungan ke-12. 

21 



|*>LSo J-i(j L-L Jiil aDIj tjjis jjJJt ^L ^-a>s tl>l aJJI 

"Maka berperanglah kamu pada jalan Alloh, tidaklah kamu dibebani 
melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para 
mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Alloh menolak serangan orang- 
orang jang kajir itu. Alloh amat besar kekuatan dan amat keras 
siksaan(Nya). " (An-Nisa' [4]: 84). 

Al-Jashosh berkata di dalam Ahkdmul (^urannya: "Sudah maldum 
dalam keyakinan kaum muslimin, bhwa jika penduduk suatu daerah 
yang berbatasan dengan musuh merasa terancam lalu dari mereka 
tidak cukup untuk melakukan perlawanan terhadap musuh, sehingga 
mereka mengkhawatirkan negeri mereka, nyawa mereka dan anak- 
anak mereka, bahwa menjadi kewajiban seluruh umat Islam untuk 
berangkat berperang bersama mereka hingga jumlah yang cukup 
untuk menghentikan serangan musuh kepada kaum muslimin. 
Masalah ini tidak diperselisihkan oleh satu orang pun dari umat ini. 
Sebab tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang berpendapat 
bolehnya berpangku tangan dari menolong mereka, karena akibatnya 
darah kaum muslimin akan tertumpah dan anak-anak mereka akan 
tertawan." 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: "Jika musuh memasuki 
negeri-negeri Islam, maka tidak diragukan bahwa menolaknya adalah 
wajib bagi mereka yang posisinya terdekat, kemudian yang terdekat 
berikutnya. Sebab semua negeri Islam itu kedudukannya adalah satu 
negeri. Dan bahwasanya wajib berangkat berperang mengusir musuh 
tersebut tanpa izin orang tua dan orang yang dihutangi. Nash-nash 
Imam Ahmad sangat tegas menyatakan hal ini." 

Di bagian lain beliau berkata: "Musuh yang menyerang, yang 
merusak agama dan dunia, maka tidak ada yang lebih wajib setelah 
iman selain melawannya." 



22 



Jadi kita diperintah untuk mengusir musuh yang menyerang 
ini. Bahkan, berdasarkan perkataan para imam kita tadi, kami 
berkeyakinan bahwa seluruh umat Islam -baik dari ulamanya, 
para dainya hingga orang awamnya — berdosa ketika mereka 
tidak ikut dan berpangku tangan dari menolong mujahidin. 

Jika semua orang Islam mengikuti isi dari syubhat seperti ini 
(yakni menghentikan jihad di Irak kerana itu hanya jihad 
Nikayah, penerj.), tentu Islam tidak tegak, tidak ada panji 
yang terangkat bagi kaum muslimin. Apa tujuan dari 
menggunakan perkataan tadi kalau bukan menghalangi dan 
menghentikan perang dan jihad di jalan Alloh, menyerahkan 
negeri-negeri Islam dan rakyatnya ke tangan kaum salibis dan 
kaum murtaddin yang membantunya, sehingga mereka bisa 
berbuat kepada kaum muslimin semau mereka? 

Bukankah perkataan bahwa yang akan memetik buah jihad 
adalah selain mujahidin, itu tak lain adalah mengira-ngira 
sesuatu yang masih ghoib dan sekedar praduga? Dan sejak 
kapankah memetik buah itu menjadi bukti benar tidaknya 
suatu perbuatan? 

Di dalam Shohih Bukhori-Muslim diriwayatkan dari Khobbab bin Al- 
Art 8§l> ia berkata: "Kami berhijrah bersama Rosululloh -j|§ dalam rangka 
mengharap wajah Alloh, maka pahala kami akan tertulis di sisi Alloh $gs . 
Di antara kami adajang telah meninggal dunia dan belum sempat menikmati 
hasilnja sama sekali (belum sempat mengalami kemenangan, penerj.), seperti 
Mush'ab bin 'Umair, ia terbunuh dalam perang Uhud, kami tidak 
menemukan sesuatu untuk sekedar mengka/aninya selain namiroh jangjika 
kami tutup kepalanja maka kedua kakinja terbuka, jika kami tutup kedua 
kakinja maka kepalanja terbuka. Akhrinja Rosululloh *1| memerintahkan 
kami agar menutup kepalanja dengan namiroh itu dan menutup kakinja 
dengan daun id^khir. Di antara kami ada sempat mengalami masa matang 
buahnja, lalu dia memetiknja. " 



4 Namiroh: kain bergaris hitam putih, (lihat: Al-Mu 'jamu "l-Wasith, vol. na-ma- 
ro, hal. 954). 

23 



Yang kami ketahui dari agama Alloh adalah: bahwasanya kita 
diperintahkan untuk melaksanakan perintah-Nya dan 
berangkat berperang baik dalam keadaan ringan maupun 
berat, di jalan Alloh. Setelah itu mengenai hasil, dikembalikan 
kepada Alloh iH , itu bukan urusan kita. 

Tugasmu adalah menebar benih, bukan memetik hasil 

Alloh adalah sebaik-baik penolong bagi orang-orangjang mau berusaha 

Dulu kekuataan jahat dan kafir berkoalisi untuk menggempur 
Madinah, mereka ingin membabat habis kaum muslimin dalam 
perang Ahzab. Kaum muslimin mengalami ketakutan yang luar 
biasa, sampai-sampai Nabi |§§ bersabda: "Siapajang mau mencari berita 
tentang mereka, ia akan menjadi temanku di Surga?", beliau terus 
mengulang-ulang sabdanya tapi tidak ada seorang pun yang sanggup 
memenuhinya. Dan ketika itu, di tengah suasana yang sedemikian, 
Nabi |§§ memberi kabar gembira kepada para shahabatnya akan 
ditaklukkannya istana-istana hjroh dan Madain Kisra, maka orang- 
orang munatik berkata: "Tidakkah kalian heran?! Ia berkata kepada 
kalian, memberi janji kepada kalian dan memberi angan-angan 
kosong kepada kalian. Ia memberitahu bahwa ia bisa melihat istana- 
istana hairoh dan Madain Kisro dari Madinah lalu kota-kota itu akan 
kalian taklukkan, padahal kalian sedang menggali parit dan untuk 
menampakkan diri saja tidak bisa!" 

Sungguh, siapa pun kita, tidak bisa terlepas dari kehidupan para 
pendahulunya. Sejarah kita yang cemerlang telah memuat untuk kita 
peristiwa-peristiwa gemilang dan lembaran-lembaran bercahaya, di 
mana sejarah itu turut membantu kita — setelah Alloh Ta'ala — 
sehingga kita tetap teguh di atas jalan kita ini. Sebagaimana tirman 
Alloh Ta'ala: 



j!_3UI JjU ij^- ,* ,g ./? ^ai .J jlS" JJiJ 



"Sesungguhnja pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang- 
orangjang mempunjai akal. . . " (QS. Yusuf: 111). 



24 



Berangkat dari sini, saya ingin mengingatkan umatku akan satu dari 
sekian kisah mengenai kemuliaan dan harga diri, satu dari sekian 
contoh membanggakan dan kebesaran. Siapa tahu, kisah itu bisa 
membantu menyingkirkan debu kehinaan yang kini menyelimuti 
kita, sekaligus menjadi jalan untuk menghilangkan kabut kehinaan 
yang mendera kita. Kisah itu akan sedikit kami kaitkan dengan 
peristiwa dan fakta, lalu bagaimana sikap para pelakunya ketika itu, 
dengan fakta yang dialami umat kita hari ini dan sikap mereka. . . 

"Di tahun 463 H, raja Romawi bernama Armanius datang dengan 
bala tentara seperti gunung-gunung, terdiri dari bangsa Romawi, 
Karj dan Eropa. Datang dalam jumlah besar dan rombongan yang 
gegap gempita. Ia turut membawa serta tiga puluh ribu batriq. Setiap 
bathriq-nya terdiri dari lima ratus hingga dua ribu pasukan berkuda. 
Orang Eropa yang ikut berjumlah tiga puluh lima ribu personel. 
Kemudian dari bangsa Ghuzz, yakni etnis yang tinggal di belakang 
wilayah Kostantin, ada lima belas ribu personel. Ia juga membawa 
seribu baju besi dan alat penggali, seribu rousjariy, empat buah 
kendaraan berroda yang mengangkut alas kaki dan pasak-pasak. Dua 
ribu kendaraan berroda pengangkut senjata, lampu penerangan, 
kendaraan angkut, dan meriam-meriam munjaniq, dari sekian 
munjaniq itu ada satu yang jangkauan tembakknya mencapai seribu 
dua ratus kaki. Ia sangat berambisi -semoga Alloh 
menghinakannya — memberangus Islam dan para pemeluknya. 
Batriq-batriqnya telah menyeberangi berbagai negara hingga akhirnya 
tiba di Baghdad." 

Saya katakan: Alangkah mirip antara malam dan petang, bukankah 
seperti ini kondisi tentara salib hari ini? Ketika mereka datang ke 
Irak dengan segenap senjata dan perlengkapan mereka, dengan 
kapal-kapal perangnya, rudal-rudalnya, pesawat-pesawat tempurnya 
dan tank-tanknya. Jumlah pasukannya lebih dari 150.000 tentara, 
dibantu oleh lebih dari 30 negara-negara kafir dan sesat, datang 
dalam batalyon salib terbesar yang pernah dilihat seluruh negara di 
dunia, mereka ingin menghabisi Islam dan para pengikutoya di 
bawah jargon "pemberantasan terorisme dan Al-Qaeda", 



25 



"memerangi radikalisme dan ekstrimisme", dan jargon-jargon lain 
yang tak tersamar lagi kecuali pada orang-orang yang Alloh butakan 
mata dan hatinya. 

"Armaniyus berkata kepada wakilnya agar memperlakukan khalifah 
dengan baik, ia berkata: "Perlakukan orang tua itu dengan baik, dia 
adalah teman kita. Kemudian jika kamu nanti telah berhasil meminta 
perjanjian dari raja-raja Irak dan Khurosan, seranglah Syam dan 
penduduknya dengan sekali serang, rebutl dan selamatkanlah negeri 
itu dari tangan orang-orang Islam -begitu keyakinan mereka — . 
Namun takdir mengatakan: "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya 
mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan). " (QS. Al-Hijr: 
72). 

Saya katakan: bukankah rencana mereka juga seperti ini, setelah 
mereka menginvasi tanah Dua Sungai? Bukankah mereka akan 
menyerang Syam dan penduduknya dengan dalih mereka melindungi 
para pengikut setia partai Ba'ath dan tidak mencegah menyusupnya 
gerilyawan, sekiranya Alloh tidak menolak tipu daya dan makar 
mereka melalui serangan-serangan mujahidin yang tulus? Dan 
mereka masih berambisi menyelesaikan rencana mereka dan terus 
bergerak untuk mewujudkannya, yaitu untuk mengukuhkan Negara 
Israel Raya yang terbentang dari Sungai Eufrat hingga sungai Nil. 
Dan siapakah yang tahu? Sebab hari-hari itu ibarat wanita hamil tua, 
dan sungguh hari esok itu dekat bagi orang yang menunggu. 

"Maka Sultan Alib Arsalan menghadang mereka bersama 
pasukannya yang berjumlah sekitar 20.000 pada hari Rabu, lima hari 
sebelum bulan Dzulhijjah habis. Sultan khawatir dengan banyaknya 
tentara raja Romawi itu. Sultan Alib Arsalan — yang merupakan orang 
Turki — adalah penguasa Irak dan negara-negara non-Arab ketika itu. 
Beliau mengumpulkan para pemuka wilayah-wilayah yang 
dikuasainya, ia berkata: 

"Kalian tahu sendiri apa yang tengah dihadapi kaum Muslimin, lalu 
apa pendapat kalian?" 



26 



Mereka berkata: "Pendapat kami mengikuti pendapatmu. Tentara 
yang datang ini tidak akan sanggup dihadapi siapapun." 

Ia berkata: "Mau lari ke mana? Tidak ada pilihan selain mati. Maka 
marilah kita mati dalam keadaan mulia dan baik." 

"Adapun jika engkau menyumbangkan nyawamu, maka nyawa kami 
menjadi penebusmu." Kata mereka. 

Akhirnya mereka bertekad untuk menghadapinya. Alib Arsalan 
berkata: "Kita cegat mereka di depan negeri-negeriku." 

Maka Alib berangkat bersama 20.000 tentara dari orang-orang besar, 
pemberani dan pilihan. Ketika mereka menempuh satu jarak 
perjalanan, Alib memeriksa pasukannya, ternyata ia hanya melihat 
jumlah mereka 15.000 orang saja, 5.000 orang pulang. Ketika 
berjalan pada tahapan perjalanan berikutnya, ia kembali memeriksa 
pasukannya, ternyata mereka tinggal 12.000 orang. Ketika Sultan 
Alib bertemu musuh di pagi harinya, ia melihat pemandangan yang 
membuat tikiran linglung dan bingung, kaum muslimin seperti 
sehelai bulu putih di tubuh sapi hitam. Ketika dua pasukan bertemu, 
kekahran dan iman saling berhadapan, dan dua gunung saling 
berbenturan, Sultan Alib meminta dilakukan gencatan senjata. 
Armanus berkata: "Tidak ada gencatan senjata kecuali dengan syarat 
menyerahkan negeri." 

Saya katakan: Bukankah seperti ini pula kelakuan "Armaniyus" 
mereka, yaitu Bush, ketika pertama kali dia invasi Afghanistan dan 
Irak? Ketika itu dia tidak peduli dengan siapapun, tidak mau 
menerima gencatan senjata, tidak sudi berdamai. Hingga ketika 
Alloh dan tentara-tentara-Nya menimpakan kepadanya pahitnya 
kehinaan dan kekalahan, yaitu melalui tangan-tangan hamba-hamba- 
Nya yang berjihad (mujahidin) dan wali-wali-Nya yang jujur, barulah 
ia berteriak-teriak mengenai pentingnya membuka pintu dialog dan 
mencari solusi masalah melalui perundingan. 

"Maka Sultan Alib emosi dan menggelegak kemarahannya, lalu 
berkatalah imamnya yang bernama Abu Nashr Muhammad bin 



27 



Abdul Malik Al-Bukhori: "Sesungguhnya engkau berperang 
membela agama yang Alloh berjanji akan memenangkannya, 
barangkali kemenangan ini kelak akan atas nama dirimu, maka 
perangilah mereka di waktu Dzuhur." Ketika hari Jumat. Ia 
melanjutkan: "Sesungguhnya itu adalah waktu ketika para khotib 
berada di atas mimbar, dan mereka akan mendoakan kemenangan 
bagi mujahidin." 

Saya katakan: di sinilah peran para imam dan ulama dalam 
meneguhkan para komandan dan pemimpin, dan memotivasi 
mereka untuk terus memerangi musuh, mengingatkan mereka akan 
pertolongan Alloh terhadap pasukan-Nya, wali-wali-Nya dan 
tentara-Nya. Sebagaimana dikatakan: "Tegaknya Din ini adalah 
dengan kitab yang memberi petunjuk dan pedang yang membela. 
Dan cukuplah Alloh sebagai pemberi petunjuk dan pemberi 
kemenangan." 

Renungkanlah perkataan imam tadi: "Sesungguhnya itu adalah 
waktu ketika para khotib berada di atas mimbar, dan mereka akan 
mendoakan kemenangan bagi mujahidin." Setelah itu berilah 
kesempatan kedua matamu untuk mempersembahkan air matanya 
dalam rangka ikut bersedih dan pilu terhadap kondisi umat hari ini. 
Duhai, kalau lah para imam dan khotib kita itu tidak mau berangkat 
sendiri untuk membela kaum tertindas, dan tidak mau berjihad 
dengan lisan mereka terhadap musuh-musuh Islam, dan tidak mau 
menolong para pengikut tauhid walau dengan doa, mengapakah 
mereka tidak mau menahan lisannya dari menjelekkan mujahidin 
dan tidak menjadi pembantu bagi kaum salib dan murtaddin? 

Demi Alloh, umat yang berdoa dan memanjatkan qunut untuk 
keburukan bagi putera-puteranya yang berjihad, sungguh itu adalah 
umat yang buruk. Sesungguhnya umat yang berdoa dan 
memanjatkan qunut untuk keburukan bagi orang seperti Yusuf Al- 
'Uyairi, Abdul Aziz Al-Muqrin, Turki Ad-Dandani, Hamd Al- 
Humaidi, Isa Al-Ausyan, Abdulloh Ar-Rusyud, Sholih Al-Aufi dan 
mujahid-mujahid lainnya, benar-benar umat yang buruk. 



28 



"Maka mereka pun sholat sementara Sultan menangis, ia berdoa dan 
mereka mengamini. Ia bersujud dan melumuri wajahnya dengan 
tanah sambil berkata: "Wahai para gubernur, siapa yang mau pulang 
silahkan pulang, di sini tidak ada lagi Sultan." Lalu ia ikat ekor kuda 
dengan tangannya sendiri, ia mengenakan baju putih dan 
menggunakan hanuth (wewangian untuk mayit), lalu berkata: 
"Hendaknya masing-masing dari kalian mengucapkan perpisahan 
kepada sahabataya, dan memberi wasiat." Mereka pun 
melakukannya. Sultan Alib berkata: "Aku bertekad untuk maju, 
maka majulah bersamaku." Lalu dua pasukan pun saling 
berhadapan, Sultan turun dari kudanya dan bersujud kepada Alloh k, 
ia lumurkan mukanya ke dalam tanah sambil berdoa dan memohon 
kemenangan kepada Alloh." 

Saya katakan: Seperti inilah sunnatulloh m . Harus ada kronfrontasi 
langsung dengan kekuatan jahat, harus ada benturan dengan koalisi 
kafir. Karena tidak mungkin kehinaan yang menyelubungi umat ini 
dapat dilenyapkan selain dengan mengangkat panji jihad dan 
memohon kemenangan dari Alloh, Robb semua hamba. Din ini 
tidak mungkin akan menumbuhkan batang pohonnya di atas tanah 
kita sebelum umat menyiramnya dengan darah putera-puteranya 
sebagaimana orang-orang terdahulu menyiramnya. Tidak mungkin 
tegak pada kita apa yang tegak pada generasi pendahulu kita sebelum 
kita berkorban sebagaimana mereka berkorban. 

"Maka Alloh menurunkan pertolongan-Nya kepada kaum Muslimin, 
Alloh mengkaruniai mereka pundak orang-orang kafir itu, kaum 
muslimin berhasil membunuh pasukan mereka dalam jumlah yang 
banyak, dan akhirnya raja mereka, Armanus, tertangkap. Alib 
Arsalan kemudian duduk di atas singgasana raja Armanus pada 
tenda yang dipasang di atas kudanya. Ia memakan makanannya dan 
memakai pakaiannya. Raja Armanus dibawa ke hadapannya 
sementara di lehernya terjuntai tali belenggu. Sultan Alib berkata: 
"Apa yang akan kau lakukan jika kamu yang menangkapku?" 

"Apakah kamu masih ragu, bahwa aku pasti membunuhmu ketika 
itu?" jawab Armanus. 

29 



Alib Arsalan berkata: "Dalam pandanganku kamu terlalu kecil untuk 
dibunuh. Bawa dia pergi dan jual dia." 

Maka mereka membawanya berkeliling ke seluruh pasukan 
sementara tali belenggu masih terjuntai pada lehernya, ditawarkan 
seharga beberapa dirham namun tidak ada seorang pun yang mau 
membelinya. Hingga ketika mereka telah sampai ke akhir pasukan, 
ada seorang lelaki berkata: "Jika kalian mau menjualnya kepadanya 
dengan anjing ini, aku mau membelinya." Akhirnya mereka 
mengikat Armanus dan mengambil anjing tersebut, lalu mereka 
membawa keduanya kepada Alib Arsalan dan mereka 
memberitahukan kepadanya tentang apa yang telah mereka lakukan 
dan harga yang dibayar untuk Armanus. Alib berkata: "Anjing ini 
lebih baik dari dia, sebab anjing ini berguna sedang dia tidak 
berguna. Ambillah anjing itu dan berikan anjing ini kepadanya." 
Setelah itu Alib Arsalan memerintahkan agar membebaskan 
Armanus dengan menjadikan anjing itu sebagai temannya dan 
mengikatkannya pada lehernya, kemudian ia menyuruh seseorang 
untuk mengantarkannya ke negerinya. Sesampai di sana, para 
penduduknya mencopot Armanus dari status raja dan memberinya 
celak mata. Segala puji dan karunia hanya milik Alloh." 

Dan berikut ini surat kepada wanita-wanita merdeka di negeri 
Dua Sungai secara khusus, dan wanita umat Islam secara 
umum: 

Di mana peran kalian dari jihad yang penuh berkah ini? 

Apa yang sudah kalian persembahkan untuk umat ini? 

Tidakkah kalian takut kepada AUoh mengenai diri kalian? 

Apakah kalian akan membesarkan anak-anak kalian untuk 
disembelih di meja-meja makan thoghut? 

Apakah kalian lebih senang dengan kehinaan dan berpangku tangan 
dari jihad ini? 

Tidakkah kalian lihat kaum lelaki telah mentelantarkan kuda dan 
meletakkan senjata, lalu berkata: "Tidak ada jihad lagi."? 

30 



Mengapa kalian tidak mengirim anak-anak kalian ke tengah medan 
pertempuran supaya mereka merasakan kehangatan apinya dan 
memberikan pembelaannya terhadap Din ini? 

Mengapa tidak kalian motivasi suami-suami dan anak-anak kalian 
untuk berjihad melawan kaum salibis dan berperang melawan kaum 
murtaddin, dan mengorbankan nyawa dan darah dengan murah 
demi agama ini? 

Dalam perang Uhud, wanita-wanita musyrik -dan mereka ini berada 
dalam kebatilan — membawa alat celak mata. Kemudian setiap kali 
ada seseorang yang mundur ke belakang, mereka memberikan 
kepadanya celak tersebut dan mengatakan kepadanya: "Kamu 
sebenarnya adalah perempuan." Lantas bagaimana dengan kalian, 
padahal kalian berada di atas kebenaran? 

Alloh...Alloh...takutlah kalian kepada AUoh mengenai diri kalian, 
bebaskan diri kalian dari api neraka sebagaimana pesan Nabi n 
kepada kalian: 



"Wahai kaum wanita, bersedekahlah! Sungguh aku melihat kalian adalah 
penghuni nerakapaling banyak. " 

Takutlah kepada Alloh, wahai cucu-cucu Ummu 'Umaroh? 

Tahukah kalian, siapa Ummu 'Umaroh itu? Nabi $§| bersabda 
tentangnya dalam perang Uhud: "Sungguh posisinya hari ini lebih baik 
bosisi Sijulan dan Sijulan. " 



Ummu 'Umaroh bercerita: "Aku melihat sendiri bagaimana ketika 
orang-orang menyingkir dari Rosululloh «|§ sampai tidak ada yang 
tersisa selain beberapa orang, tidak sampai sepuluh orang. Aku, 
kedua anakku dan suamiku berada di depan Nabi JH untuk 
melindungi beliau, sementara orang-orang berlalu mundur ke 
belakang Nabi *1§, dan aku tidak membawa perisai. Kemudian beliau 
melihat seseorang yang mundur membawa perisai, beliau berkata 
kepadanya: "Buang perisaimu kepada orang yang masih mau 

31 



berperang." Ia pun membuangnya, lalu aku segera mengambilnya 
dan kugunakan untuk melindungi Rosululloh §§§. Kami diserang 
sedemikian rupa oleh para penunggang kuda, seandainya saja mereka 
berjalan kaki tentu kami juga berhasil melukai mereka Insya Alloh. 
Tiba-tiba datang seorang lelaki di atas kudanya dan menebasku, 
namun aku melindungi diri dengan perisai darinya sehingga ia tak 
mampu berbuat apa-apa dan mundur, maka aku menebas tumit 
kudanya sehingga ia pun terpelanting dari punggungnya. Melihat itu 
Nabi |§§ berteriak: "Wahai putera Ummu 'Umaroh, ibumu...ibumu...l" 
lalu anakku membantuku hingga akhirnya aku berhasil membunuh 
orang itu." 

Tidaklah ada bahaya yang mendekati Rosululloh $H melainkan 
Ummu 'Umaroh menjadi pembendungnya dan mendekat ke 
tubuhnya, sampai-sampai Nabi |§§ bersabda: "Tidaklah aku menoleh ke 
kanan dan ke kiri melainkan aku melihatnya berperang , 



Ummu 'Umaroh juga ikut dalam perang Yamamah, ia berperang 
hingga tangannya putus dan mendapatkan 12 luka. 

Sesungguhnya, wanita mujahidah adalah yang mendidik anaknya 
bukan untuk hidup begitu saja, tapi untuk berperang sampai 
terbunuh, atau hidup sebagai orang yang merdeka. Sungguh betapa 
tinggi semangat seperti itu, betapa menjulang niat seperti itu. 

Para ahli sejarah menyebutkan, bahwa Kholid bin Walid mendengar 
berita tibanya tentara Romawi dengan jumlah besar di selatan 
Palestina, dan orang-orang Kristen Arab, penduduk Syam juga telah 
berlomba bergabung bersama pasukan ini. Maka Kholid pun 
berangkat berperang dan mengatur barisan pasukannya, lalu ia mulai 
mengobarkan semangat mereka, ia perintahkan wanita-wanita 
muslimat berdiri di belakang barisan sambil berdoa dan memohon 
pertolongan kepada Alloh, dan setiap kali ada satu orang lelaki 
muslim melewati mereka, mereka menyerahkan anaknya dan 
mengatakan kepadanya: "Berperanglah membela anak-anak dan 
isteri-isteri kalian." Kholid juga memerintahkan mereka agar 
melarang kaum lelaki melakukan sesuatu yang halal kepada mereka. 



32 



Setelah itu Kholid maju bersama pasukannya menghadapi tentara 
Romawi, dan ternyata tentara Romawi tak tahan menghadapi 
mereka walau pun dalam waktu sebentar, mereka mengalami 
kekalahan besar, kaum muslimin membunuhi mereka sesuka hati 
dan merampas kamp tentara beserta isinya. 

Alloh...Alloh...takutlah kalian kepada Alloh, wahai wanita-wanita 
cucu Asma' dan Khonsa'. 

Tidakkah kalian melihat umat ini disembelih urat nadinya satu demi 
satu, dijajah dari ujung utara hingga selatannya, dari timur hingga 
baratnya? 

Belum sampaikah ke telinga kalian apa yang dialami saudari-saudari 
kalian di penjara kejam salibis? 

Bagaimana perasaan kalian jika kalian menjadi salah satu dari 
mereka, yang mengangan-angankan adanya putera-putera umat ini 
yang bisa menyelamatkan dan membebaskannya? 

Sungguh telah datang kepadaku akhwat-akhwat mujahidah di negeri 
Dua Sungai, mereka meminta dilaksanakannya operasi-operasi mati 
syahid, mereka memintanya berulang-ulang. Ada salah seorang dari 
mereka yang menulis surat kepadaku dengan tulisan teriring darah 
dan air mata, setelah beberapa ikhwan menemui syahid dalam 
operasi Abu Gharib, yang sedianya dengan operasi itu mereka 
bermaksud membebaskan muslimah-muslimah yang ditawan di 
penjara kejam salibis itu, ia menulis surat kepadaku meminta dirinya 
menjadi pelaku operasi mati syahid, "Sungguh tidak ada hidup 
tenang lagi setelah terbunuhnya mereka," tulisnya. Bahkan dia 
bersumpah kepadaku dengan menyebut nama Alloh agar 
mengiyakan permintaannya itu. Dan sejak itu hingga hari ini — sudah 
sekitar delapan bulan yang lalu — ia terus berpuasa dan tidak pernah 
berhenti puasa di siang hari. 

Alloh Maha Tahu betapa aku sangat trenyuh dengan kata-katanya, 

aku tak kuasa menahan diri sehingga aku pun menangis karena sedih 
menyaksikan kondisi umat ini. Separah inikah kehinaan yang 



33 



menimpa umatku? Sudah habiskah kaum pria sehingga kita harus 
melatih kaum wanita sebagai tentara? Bukankah termasuk kehinaan 
bagi putera-putera umatku ketika ada akhwat kita yang suci dan 
terjaga kehormatannya meminta dilaksanakannya operasi 
istisyhadiyah, sementara lelaki-lelaki umatku tenggelam dalam tidurnya 
dan bermain-main dalam kesia-siaannya? 

Dan ber ikut ini sur at buat musuh Alloh, Bush! . . . 

Sungguh kamu telah terbuai oleh pasukanmu, dadamu dipenuhi oleh 
kebatilan, sehingga kamu nekat terjun dalam perang Afghanistan. 
Engkau mengklaim telah menjalankan perang suci, dan bahwa 
tuhanmu lah yang menyuruhmu melancarkan perang ini. Dirimu 
semakin terbuai sehingga kamu melakukan perang berikutaya di Irak 
dengan tujuan mengukuhkan kedaulatan Israel. Kamu mengira 
semua akan berjalan sesuai rencanamu dan keinginan nafsumu, tak 
pernah terlintas dalam pikiranmu bahwa Alloh telah menyiapkan 
sesuatu yang akan membuatmu celaka melalui tangan-tangan 
sekelompok kecil para pengikut dan tentara akidah tauhid, dari 
kalangan muhajirin dan anshor, yang menenggelamkan hidung 
tentaramu di tanah dengan disaksikan dan didengarkan oleh seluruh 
masyarakat dunia. 

Mana tuhan yang kau yakini itu? Suruh dia menyelamatkanmu dan 
tentaramu dari kubangan yang kalian tengah tenggelam di dalamnya, 
jika kamu memang orang yang benar. 

Dulu kamu mengatakan: "Tuhan yang disembah kaum jihadis adalah 
tuhan patung yang rusak." Beginilah klaim kamu. Kamu tidak 
mengetahui bahwa ildh yang kami ibadahi, yang kami berlindung dan 
bertawakkal kepada-Nya adalah Yang melemparkan rasa takut ke 
dalam hati tentara-tentaramu dan menyatukan hati orang-orang yang 
tergabung dalam kelompok kecil yang sabar ini. 

Jika tidak demikian, coba jawablah pertanyaanku: Siapa yang 
memunculkan orang-orang yang berambut kusut dan berdebu itu, 
yang jumlahnya sedikit, yang lemah persenjataannya, melawan 
tentaramu yang banyak jumlahnya dan besar persenjataanya? 

34 



Sesungguhnya, Dia lah Alloh@Syang telah membinasakan tentara 
gajah di hari ketika mereka datang dengan balatentaranya untuk 
menghancurkan Ka'bah, kemudian Dia mengirim kawanan burung 
yang melempari mereka dan batu sijjil. 

Sekarang, biarkan aku bisikkan ke telingamu yang tuli itu, hai 
"pemilik pasukan gajah" baru! 

Tuhan yang kau sembah itu, hai dungu, juga disembah oleh antek- 
antekmu dari kalangan Ratidhah yang pendengki, sungguh adalah 
tuhan yang jelek. Sesungguhnya Al-Masih yang kamu tunggu dan 
Muhammad bin Hasan Al-Askari yang ditunggu Ratidhah 
pengikutmu adalah tuhan yang sama, yaitu Al-Masih Dajjal. Maka 
silahkan kalian mencarinya di Sirdab-sirdab Sammarro' atau di lembah 
Maggedo, siapa tahu dia bisa menyelamatkan kalian. 

Kita lihat nanti, hai si dungu yang dipatuhi banyak orang, siapa yang 
menang di akhir pertempuran; tuhan kami atau tuhan kalian. . . 

, .. % , , , ■» , , , 

Ji f ,s _D* /O .- ( > . ^O s . . . s % O^^^O^ ^.-r-0^.0* 

u_« j»_A Uj ~-^jiJ\ j^j Oj*+hz+~j U ujj.5 y *_g-*^<J 4_gJl j^—gJ j»l 

As f 

"Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan jang dapat memelihara 
mereka dari (a%ab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri 
mereka sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (a%ab) Kami itu?" 
(QS. Al-Anbiya': 43). 

Wahai umat Islam... 

Sesungguhnya kami meyakini bahwa jihad di Irak adalah cobaan dan 
ujian sekaligus proses penyaringan (tamhish) dari Alloh untuk 
membedakan mana yang jujur imannya dan mana yang dusta, mana 
yang kotor dan mana yang baik. Mungkin kalian telah mendengar 
rencana makar yang disiapkan kaum salib Bani Ashfar setelah 
mereka ketakutan, tergoncangkan tempat tidurnya, risau di malam 
harinya, oleh serangan bertubi-tubi mujahidin. Yang membuat kaum 
salib itu kehilangan keseimbangan bertikirnya dan memaksa tokoh- 

35 



tokoh gedung putih (gedung hitam?) sempoyongan oleh statemen- 
statemen mereka sendiri. Akhirnya terpaksa mereka menyatakan 
kesetujuannya melakukan perundingan dengan "kelompok 
perlawanan bersenjata" di Irak, dengan itu mereka bermaksud 
menghentikan tetesan darah yang terus menerus menimpa tentara 
salib dan antek-antek murtaddinnya, serta memecah belah barisan 
mujahidin dan mengacak-acak bendera jihad yang murni. 

Kami memiliki sikap tersendiri terhadap rencana makar ini, maka 
kami katakan: 

Siapapun hendaknya tahu, baik mereka yang jauh maupun yang 
dekat, bahwa ketika tentara Salib datang menduduki Irak dan 
menggulingkan partai Baath yang katir lalu tokoh-tokoh dan para 
pengikutnya berguguran, kesatuan tentaranya bubar, maka para 
mujahidinlah yang bangkit membela agama ini untuk mengusir para 
agressor penjajah. "Pasar jihad" pun digelar. Para pahlawan 
berlomba menuju pertempuran. Batalyon isytisyhadijyin bergerak, 
mereka rubah malamnya musuh menjadi membara. Batalyon- 
batalyon tempur merangsek maju, barisan perang beranjak ke depan. 
Barisan satu bergabung dengan barisan lain, mereka rasakan kepada 
musuh gelas-gelas kematian. Singa-singa tauhid meloncat bak burung 
elang menerkam burung-burung kecil, lalu mencabik-cabiknya 
hingga tercerai berai dan menjadikannya berteriak keras. Pasar Surga 
dibuka, para pemberani berlomba-lomba, semuanya mencari tempat 
di sisi Ar-Rohman. 

Maka mulai kacaulah barisan musuh, ketakutan mulai menyeruak 
dalam hati mereka. Pangkalan-pangkalan militer mereka terguncang. 
Dengan karunia Alloh, panji-panji peperangan mulai nampak. 
Kerugian materi dan nyawa di tihak musuh semakin membengkak, 
dan seluruh wilayah Irak kini berubah menjadi neraka bagi para 
penyembah salib. Luka semakin menganga. Punggung musuh kini 
terbuka. Mereka tak mampu lagi menutupi fakta yang terjadi dalam 
pertempuran. Akhirnya, seperti kami singgung sebelumnya, mereka 
menggunakan cara mendatangi sebagian milisi dari masyarakat kami 
dan menganggap mereka telah mewakili kaum "perlawanan", 

36 



mereka ingin menjadi iihak yang memetik buah dari jihad ini dan 
menyelamatkan sang tuan, Amerika, dari kubangan lumpur yang ia 
terjerembab di dalamnya. 

Di manakah "kaum perlawanan" itu? Ke mana para perwiranya? 
Kami tidak pernah mendengar dan melihat batang hidung mereka 
sejak perang sengit ini berlangsung lebih dari dua tahun. Ke mana 
mereka? Mana pengorbanan mereka? Mana serangan dan aksi-aksi 
mereka terhadap tentara salib di tanah Irak? Ke mana "rubah-rubah" 
itu pergi ketika pertempuran sedang berlangsung di Fallujah, Al- 
Qo'im, Moushil, Diyala, Samarro' dan lain-lain? 



' di saat aman bakpasukan tempur, keras dan bengis? 

Tapi ketika perang seperti perempuan-perempuan jang sedang haidh? 

Adapun kami, berkat karunia AUoh, mengerti dan faham tentang 
konspirasi jahat yang diarahkan kepada kami, yang dirajut oleh kaum 
salib dan Ratidhah pendengki, bahkan -yang patut disayangkan — 
bersama dengan sebagian partai-partai Islam yang menyerah yang 
secara semberono disebut-sebut sebagai wakil Islam dan mujahidin, 
contohnya adalah Hizb Al-Islami beserta beberapa tokoh kabilah 
yang lebih senang menjadi alat bagi orang-orang kristen dalam 
melaksanakan program-programnya menghabisi jihad dan 
mujahidin. 

Maka kami katakan kepada para konspirator tersebut: 

Jihad kami ini adalah demi membela Islam dan menerapkan hukum 
Syariat Alloh, Robb semesta alam, dan untuk mengusir serangan 
pasukan salib. Dan sungguh kami sedang berperang membela 
sebuah agama yang agung, yaitu agama Robb semesta alam. Maka, 
Dzat Yang telah Melindungi dari makar-makar salibis di masa 
lampau, juga Maha Kuasa untuk melindungi kami dari makar kalian, 
menguak kedok kalian dan membongkar kebusukan kalian. 

Celakalah kalian, wahai para penjahat; sungguh jika kalian berjumpa 
Alloh dengan dosa sebesar gunung Tihamah itu lebih baik bagi 
kalian daripada kalian berjumpa dengan-Nya dengan membawa dosa 

37 



yang teramat sangat besar, yaitu dosa berkonspirasi untuk 
menghabisi jihad dan mujahidin. 

s s s s & $■ s o o -- -- a ** 

iS l*iS • -- % i $■/--■ s • i , /• t / / *■ 5* 9> s • > 

«^Jt c^IwLp *.g) IjJ^I /jjJJI ^5 <Ju^liJl a-w^J (1)1 Oj^tj /vJji tl)| 

a^Ulj Clli! Js 

"Sesungguhnja orang-orang jang ingin agar perbuatan jang amat keji itu 
tersiar di kalangan orang-orangjang beriman, bagi mereka a^abjangpedih di 
dunia dan di akhirat..." (An-Nur: 19). Adakah perbuatan keji yang 
lebih besar daripada menghentikan jihad? Di mana jika jihad 
berhenti, kehormatan diperkosa dan negeri dijajah? 

Lihatlah, kalian dengan senang hati ikut serta dalam penulisan 
undang-undang negara, ikut serta dalam menyeret manusia untuk 
menghamba kepada selain Robb manusia, bersama orang-orang 
yahudi, kristen, dan Ratidah yang pendengki itu. Sungguh, itu adalah 
dosa yang membuat bulu kuduk ini berdiri dan membuat hati ini 
jijik. 



"Maka apakah mereka mencari agama jang lain dari agama Alloh, padahal 
j-Nja-lah menjerahkan diri segala apajang di langit dan di bumi, baik 
gan suka maupun terpaksa dan hanja kepada Alloh lah mereka 
dikembalikan. " (Ali 'Imron [3]: 83). 

Hendaknya semua yang jauh dan dekat mendengar: kami 
menyatakan dengan sangat jelas dan gamblang, bahwa kami tidak 
akan menyerahkan panji jihad dan negeri kepada orang-orang yang 
tidak bisa dipercaya dalam urusan duniawi, apalagi dalam urusan 
Din. Bahkan, mereka tidak lah mampu mencapai puncak kekuasaan 
dan tidaklah musuh terpaksa duduk bersanding bersama mereka, 
melainkan karena darah-darah mujahidin. 



38 



Demi Alloh! Kami tidak akan berhenti memerangi orang-orang salib 
dan pembantu-pembantunya yang murtad kecuali jika kami 
terkubung berkalang tanah, bukan ketika kami masih berdiri di 
atasnya. 

Catatlah, wahai kalian yang mengaku bermanhaj "memegang tongkat 
di tengah-tengah", telah habis zaman di mana darah mujahidin 
diperjual belikan dan tulang-tulang mereka dijadikan jembatan bagi 
kaum oportunis. 

Adapun kalian, wahai para mujahid...wahai macan-macan perang 
dan singa-singa pertempuran. . . 

Sesungguhnya musuh sedang mengalam hari-hari terburuknya di 
atas tanah Dua Sungai. Kerugian mereka membengkak, luka mereka 
semakin parah, moral tentaranya sedang jatuh pada titik nadir. Itu 
bisa terlihat jelas dari statemen-statemen dari komandan dan tokoh- 
tokoh mereka. Sampai-sampai sebagian anggota Konggres Amerika 
menyatakan bahwa Amerika menelan kerugian dalam perang Irak. 
Semua itu tak lain adalah berkat karunia AUoh @g , kemudian berkat 
pukulan-pukulan telak dan menyakitkan yang kalian lancarkan, yang 
membuat mereka mencari bantuan ke timur dan barat, serta 
berusaha dengan segala cara dan tipu daya untuk menghabisi jihad 
dan mujahidin. 

Maka, semoga Alloh merahmati kalian semua, selalulah kalian dalam 
keadaan waspada. Sabarlah menghadapi apa yang Alloh berlakukan 
pada kalian. Karena sesungguhnya hari-hari ini dan setelahnya akan 
terjadi titik-titik menentukan yang cemerlang dalam sejarah jihad 
kalian di atas tanah Dua Sungai tercinta. Ketahuilah, kemenangan itu 
bersama kesabaran. Jalan keluar itu bersama kegoncangan. Dan 
bersama kesulitan, pasti ada kemudahan. 

Janganlah kalian gentar dengan jumlah personel dan senjata musuh 
kalian. Sungguh, demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, kaum 
muslimin tidak pernah menang dalam pertempuran-pertempuran 
Islam karena jumlah pasukan yang banyak dan persenjataan yang 
kuat. Namun mereka menang karena tulusnya tawakkal mereka 

39 



kepada Alloh, rasa butuh mereka kepada-Nya dan penghinaan diri 
mereka di hadapan-Nya. 

Ath-Thobari menyebutkan, begitu juga ulama lainnya, bahwasanya 
Sa'ad bin Abi Waqqosh agSs bergerak dari Qodisiyyah menuju 
Mada'in -ibukota Kisra, Persia — . Sesampai di sana ia melihat 
musuh telah membentengi diri dari kaum muslimin dengan sebuah 
sungai besar, sungai itu melemparkan buih-buihnya karena arusnya 
begitu deras. Maka pada keesokan harinya, Sa'ad berkhutbah: 
"Sesungguhnya musuh kalian telah melindungi diri dengan "laut" ini 
sehingga kalian tidak bisa sampai kepada mereka sedangkan mereka 
bisa sampai kepada kalian jika mereka mau dengan menyerang kalian 
dari kapal-kapal mereka. Di belakang kalian tidak ada sesuatu yang 
kalian takutkan akan menyerang kalian. Aku melihat, kalian harus 
segera berjihad memerangi musuh kalian dengan niat-niat kalian 
sebelum kalian meninggal dunia. Ketahuilah, aku bertekad untuk 
menyeberangi sungai ini mengejar mereka." 

Maka kaum muslimin dengan serentak berkata: "Semoga Alloh 
menguatkan tekad kita dan tekadmu. Lakukanlah." 

Maka mereka semua menyeberangi sungai tersebut dan berenang 
bersama kuda-kuda mereka, sementara Sa'ad terus mengucapkan: 
"Hasbunalloh wa ni'ma "l-wakil. . .hasbunalloh wa ni'ma "l-wakil. Demi 
Alloh, Alloh pasti menolong wali-Nya, Alloh pasti menangkan 
agama-Nya, Alloh pasti kalahkan musuh-Nya, selama di pasukan ini 
tidak ada kezaliman atau dosa-dosa yang mengalahkan perbuatan 
baik" 

Akhirnya mereka berhasil menyeberangi sungai dan tidak ada satu 
pun yang tenggelam, tentara Persia pun kalah. Kaum muslimin 
merampas ghohimah dalam jumlah tak terhitung, berupa permata- 
permata dan harta-harta simpanan dalam jumlah besar. 

Inilah sungai Dujlah, di dekat kalian. Tanyailah dia, benarkah 
Sa'ad dan pasukannya pernah menyeberangimu dengan kuda- 
kuda mereka? 



40 



Kemudian tanya lagi dia, bagaimana mereka menyeberangimu? Apa 
yang mereka lakukan? 

Tentu, ia akan menjawabmu, walau dengan lisan hdl, "Apa yang bisa 
kuperbuat terhadap para lelaki yang datang dari gurun pasir untuk 
menegakkan syariat Alloh dan membersihkan bumi dari najisnya 
orang-orang kafir. Aku hanyalah salah satu dari makhluk Alloh dan 
tentara-Nya. Jika kalian melakukan sebab-sebab yang mendorong 
mereka datang, tentu tentara-tentara bumi dan langit akan tunduk 
kepada kalian. "Hai orang-orangjang beriman, jika kalian menolongAlloh, 
Alloh pun akan menolong kalian." (QS. Muhammad: 7). Tidakkah 
kalian melihat raut kesedihan di mukaku? Bagaimana tidak, 
sedangkan para penyembah salib telah menajisi airku di saat kalian 
menyeleweng dari jalan yang pernah ditempuh Sa'ad dan tentaranya. 
Sungguh aku masih ingat hari-hari yang indah itu lalu aku tak kuasa 
menahan tangis, karena rindu kepada orang-orang seperti mereka. 
Sungguh hari-hari terindahku adalah tatkala aku mengalir sementara 
mereka lewat di punggungku. Tidakkah kalian ulangi, wahai anak 
cucu Sa'ad dan Mutsanna?" 

Wahai mujahidin... 

Janganlah kalian merasa kesepian dengan banyaknya jumlah musuh 
dan sedikitnya jumlah kalian. Betapa banyak kelompok yang sedikit 
mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin AUoh, dan 
Alloh beserta orang-orang yang sabar. Nabi kalian, n, dan para 
sahabatnya, dulu menang dalam perang Badar sementara jumlah 
mereka lebih sedikit dari jumlah kalian. Begitu juga dalam perang 
Mu'tah, Qodisiyah dan lain-lain. 

Ketahuilah, kalian tidak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit, 
akan tetapi kalian dikalahkan oleh karena dosa dan maksiat. Maka, 
jaga diri kalian — semoga Alloh merahmati kalian semua — dari 
maksiat melebihi kalian menjaga diri dari musuh-musuh kalian. 
Kaum muslimin bisa menang tak lain karena maksiat musuh mereka, 
kalau bukan karena itu kita tidak kuat melawan dan mengalahkan 
mereka. 



41 



Bersemangatlah mencari mati, kalian akan mendapatkan kehidupan 
hakiki. Tingkatkan serangan kalian kepada mereka. Serang mereka 
berulang-ulang dan jangan melalaikan mereka sedikit pun. 
Perbanyaklah membaca Kalam Pencipta kalian, hidupkan malam- 
malam kalian dengan surat Al-Anfal dan At-Taubah. Perbanyaklah 
dzikir kepada Alloh. Sebab demi Alloh, Alloh adalah sebaik-baik 
penolong terhadap keadaan yang sedang kalian alami. Hai orang-orang 
jang beriman, jika kalian bertemu pasukan (musuh) maka teguhkan 
pendirianmu dan ingatlah Alloh sebanjak-banjaknja agar kalian menang " 
(Al-Anfal [8]: 45). 

Diriwayatkan dengan shohih dari Nabi kalian, $|§, bahwa beliau 
bersabda: "Maukah kuberitahu kalian tentang amalan kalian jang paling 
baik danpaling suci di sisi Raja kalian? Yang lebih bisa meninggikan derajat 
kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada menginjakkan emas dan uang, 
dan lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu musuh kalian lalu kalian 
memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian?" para sahabat 
berkata: "Apa itu wahai Rosululloh?" beliau bersabda: "D^ikir kepada 
Alloh m." 

Janganlah kalian terbawa dan tertipu oleh apa yang mereka gembar- 
gemborkan melalui media massa mengenai misi kemiliteran yang 
mereka namai dengan sandi-sandi menyilaukan, seperti "Operasi 
Halilintar", "Operasi Tombak", "Operasi Mata pisau", "Operasi 
Pedang". Sebab Majikan kalian telah bertirman: "Jangan kamu takut 
kpada mereka tapi takutlah kepada-Ku jika kamu beriman. " (Ali 'Imron 
[3]: 175). 

Apakah kalian akan takut kepada mereka yang menganggap Alloh 
adalah satu dari tuhan yang tiga? 

Apakah kalian akan takut kepada para penyembah salib? 

Apakah kalian takut kepada pasukan tentara bayaran? 

Atau, apakah kalian akan takut dengan tentara Ibnu 4-Alqomi, para 
pengikut Gedung Putih? Demi Alloh, mereka adalah manusia paling 
penakut. Kakek-kakek mereka dulu juga menyandang sifat pengecut, 



42 



mengingkari janji dan berkhianat. Semua itu, demi Alloh, adalah sifat 
yang tercela. 

Lihatlah Amirul Mukminin, Ali bin Abi Tholib £fgg, ketika beliau 
mengingatkan kita tentang sifat bapak-bapak mereka (para pencetus 
ajaran Syiah, penerj.): "Demi Alloh, aku bosan dan benci kepada 
mereka, mereka pun bosan dan benci kepadaku. Mereka sama sekali 
tidak punya sifat menepati janji. Orang yang mengalahkan mereka 
adalah orang yang tidak mendapat keuntungan apapun. Demi AUoh, 
mereka tak punya niat dan tekad dalam suatu urusan dan tidak sabar 
menahan tebasan pedang." 

Sungguh, betapa mirip antara petang dan malam. 

Sesungguhnya, kami di Tandzim Al-Qaeda Wilayah Negeri Dua 
Sungai, menyatakan terbentuknya milisi yang kami namai dengan 
nama Milisi Umar, dalam rangka mengharap dapat kebaikan dari 
nama Al-Faruq ibnul Khothob, ayah dan ibuku jadi penebusnya. 
Milisi ini kami bentuk untuk menghabisi tokoh dan kader-kader 
milisi pengkhianat: Milisi Badr, supaya kami tidak direpotkan dengan 
menghadapi milisi ini dan bisa berkonsentrasi berduel dengan 
tentara salib dan kaum murtaddin yang menjadi pengikut mereka. 

Sayyid Quthub $>M berkata tentang firman Alloh Ta'ala: "Dan orang- 
orangjang berjihad di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukki jalan-jalan 
Kami." (QS. Al-Ankabut: 69): "Orang-orang yang berjihad di jalan 
AUah dan yang selalu berinteraksi dengan-Nya, orang-orang yang 
memikul beban di atas jalan menuju-Nya yang begitu berat dan tidak 
pernah mundur atau putus asa, orang-orang yang sabar menghadapi 
ujian diri sendiri dan orang lain, orang-orang yang memikul beban 
mereka lalu berjalan di atas jalan yang begitu panjang, berat dan sepi, 
mereka itu tidak akan dibiarkan AUoh begitu saja. Alloh tidak akan 
mentelantarkan keimanan mereka dan tidak akan melupakan jihad 
mereka. Sesungguhnya Alloh akan melihat mereka dari tingkat tinggi 
lalu meridhoi mereka. Alloh akan melihat jihad yang mereka jalankan 
untuk sampai kepada-Nya lalu Dia beri mereka petunjuk. AUoh akan 
melihat usaha mereka untuk sampai lalu Dia raih tangan mereka. Dia 



43 



akan melihat kesabaran dan ihsan mereka, lalu memberi mereka 
balasan yang terbaik." 

Wahai rakyat Irak tercinta... 

Alloh Maha Tahu bahwa tidaklah kami datang ke tempat kalian 
selain untuk membantu kalian, membela kehormatan dan harga diri 
kalian, dan melawan serangan tentara salib terhadap kalian, agar 
kalian hidup mulia di negeri kalian sendiri. Jika kalian mengira jihad 
yang kami lancarkan sekedar mengusir penjajah setelah itu 
meletakkan senjata dan menyibukkan diri dengan dunia beserta 
kesenangannya, sungguh betapa ruginya kami, demi Alloh. 

Demi Alloh, menguasai seluruh tanah Irak ini dalam diri kami sama 
sekali tidak sebanding nilainya dengan ribath satu malam di jalan 
Alloh dan tidak sebanding dengan tali sandal satu ikhwan mujahid di 
antara kami. Harapan kami semua adalah: AUoh menaklukkan Irak 
untuk kami setelah itu kami menuju ke Masjidil Aqsha; qiblat 
pertama umat Islam dan tempat Isro' Nabi kita yang mulia |§§. 
Sungguh, itulah saat-saat yang sangat-sangat kami rindukan, 

# ^ ^ Jl ^ o f !■ J> 

L)^i jj5\J jl ^~£- Ji J* {Ji* jjjjijj 

"Mereka mengatakan: "Bilakah itu terjadi?" katakanlah, bisajadi itu sudah 
dekat. " (Al-Isro': 51). 

Rekan-rekanku dalam tauhid, rekan-rekanku yang sejalan. . . 

Tetaplah di atas manhaj, sekali lagi tetaplah di atas manhaj. Lihatlah 
Sayyaf, Rabbaniy dan yang semisal, ketika di awal-awal mereka 
memerangi komunis. Secara dzohir mereka membela Islam, bahkan 
Alloh menampakkan banyak karomah melalui tangan mereka, 
mereka menegaskan bahwa jihad mereka bertujuan untuk 
memberlakukan syariat AUoh di bumi Afghonistan. Namun karena 
pada manhaj mereka ada ketimpangan besar dan dosa serta maksiat 
mulai mendominasi kalangan mereka, Alloh sesatkan mereka di atas 
ilmu (mereka sesat sementara mereka tahu mereka sesat, penerj.) lalu 
mereka mengulurkan tali kasih sayang kepada fihak yang kemarin 

44 



menjadi musuh, mereka berlomba-lomba memetik hasil daripada 
jihad, mereka kemudian berhasil mendapatkan bagian kekuasaan dan 
setelah itu bertakwil dengan alasan-alasan mashlahat, mereka lipat 
nash-nash syar'i semau mereka dan mereka menyimpang dari 
hukum-hukum Islam. Alhasil, yang kemarin menjadi musuh, 
sekarang menjadi teman dekat. Yang kemarin teman dalam jihad, 
sekarang menjadi musuh. Bahkan lebih parah lagi mereka turut 
membantu datangnya tank-tank Amerika untuk menyerang kaum 
Muslimin di Afghanistan. Maha Benar Alloh Ta'ala ketika Dia 
bertirman: 

* - ' - * - & f 

\" \ ° ° " " • i I • ti i" I i - \t i T ' ' ti t ' f \" 

cJ\yeu>- *_>_j ryj tj\y>yZj) oiii-->- Ijj«-Xj y \j^>\ ,jj-Ui Igjl b 



"Hai orang-orangjang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah 
sjaitan. Barangsiapa jang mengikuti langkah-langkah sjaitan, maka 
sesungguhnya sjaitan itu menjuruh mengerjakan perbuatan jang keji danjang 



kar." (QS. An-Nur:21). 
Dan bertirman: 

s s ■&■ S S S -* -8 y" Oy 

"...maka hendaklah orang-orang jang menjalahi perintah-Nja takut akan 
ditimpajitnah atau ditimpa a^abjangpedih. " (QS. An-Nur: 63). 

Imam Ahmad berkata: "Tahukah kalian, apa titnah di sini? Fitnah 
itu adalah kesyirikan. Bisa jadi ketika seseorang menolak sebagian 
dari firman-Nya (atau sabda Rosul, penerj.) maka di hatinya terkena 
sedikit kesesatan kemudian akhirnya ia binasa." 

Wahai para mujahidin... 

Sesungguhnya sunnatulloh itu tetap akan berlaku: bahwa tidak ada 
yang lebih tinggi di atas hukum syar'i. Bahkan, Alloh sendiri 

45 



bertirman kepada nabi kita, Muhammad n, dengan titah yang 
membuat hati ini serasa tercabut dibuatnya, Alloh Ta'ala bertirman: 

iiliitJ bl (74) U-JL5 l2i Lglll ^Ty oJS" JL5J ±SLu5 jf U^Jj 

s s ' y ? 

(75) ^y?' 1 u\4^ ciAj -bsJ u j»j oUJJl cjiji^j aU>Jl ^J^*-^ 

"D«# /fea^z« &2«7/ //d^/fe memperkuat (hati)mu, niscaja kamu hampir-hampir 
condong sedikit kpada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami 
akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu 
(pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat 
seorangpenolongpun terhadap Kami. " (QS. Al-Isro': 74-75). 

Ini yang berlaku pada diri Nabi kita, Muhammad |§§, jika beliau 
condong kepada musuh — dan mustahil beliau seperti itu — , lalu 
bagaimana dengan orang yang derajatnya di bawah beliau? 

Oleh karena itu, sekali lagi, carilah selamat, carilah selamat. . .teruslah 
bersabar dan bersabar, tetaplah teguh dan tetaplah teguh di atas 
manhaj salaf, di mana Alloh bertirman tentang mereka: 

' ' ' * % & „0 

J* ^O s s ^ J" 1 s s i > J*^^ s s s \ s s J" . s 

4^>o iS ^i .V 9 i g ' " * <lJLp ^J' Ij-LkLp U» I JJ_Ly3 JLrj ^jC* J-Jl ^y» 

, Os .V s . s s > i ^O^ ,- -S ^- 

LL.-LJ i «J Jj U» « jj-yy.j -w« f«-g->-* ) 

"D/ antara orang-orang mukmin itu ada orang-orangjang menepati apajang 
telah mereka janjikan kepada Alloh; maka di antara mereka adajanggugur. 
Dan di antara mereka ada (pula)jang menunggu- nunggu dan mereka tidak 
merobah (janjinja). " (QS. Al-Ahzab: 23). 

Maka, jangan pernah kalian berubah, sekali lagi jangan berubah, 
wahai rekan-rekan tauhid. 

Jangan sampai kalian termasuk orang-orang yang mengkhianati 
Alloh dan Rosul-Nya, karena sesungguhnya Alloh II bertirman: 



46 



o J*o£^- o S / / £■ $■ $■ // ( 9- £& t ** / | | $■ $■ / $■/ —■ / • i -- uJ* -- 

j^JCJlJ -^SjUU»' Ijjj^tjj <Jj~«> JlJ 41)1 Ijjj^tJ y Ij^al /ri^Ul L$JI b 

•* I ° - 

"H«/ orang-orang jang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan 

Rosul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat 

jang dipercajakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. " (QS. Al-Anfal: 

27). 

Sesungguhnya jihad adalah amanah yang dipikulkan di atas pundak- 
pundak kalian, dan kelak Alloh akan menanyai kalian tentang 
amanah tersebut. Pengkhianat bukan sekedar mereka yang memberi 
bantuan dan membelot kepada musuh, bahkan termasuk 
pengkhianat adalah orang yang berdiam diri saja, meninggalkan 
senjata, dan rela begitu saja kesucian diberikan kepada musuh- 
musuh Alloh. 

Demi Alloh, sehari dalam kehidupan singa-singa itu lebih baik 
daripada seribu hari dalam kehidupan serigala; sesungguhnya harga 
diri, kemuliaan, dan kehidupan hakiki kalian adalah jihad fi sabilillah. 
Maka, jangan pernah, sekali lagi jangan pernah, kalian meletakkan 
senjata. Sesungguhnya jika kalian berbuat demikian, kalian akan 
digantikan orang lain, lalu kalian jauh dari rahmat AUoh. 

Berusahalah sekuat mungkin untuk menjadi bagian dari katilah mulia 
itu; katilah Muhammad |§§ dan para sahabatoya. Bukakan rumah- 
rumah dan hati-hati kalian untuk menerima saudara-saudara kalian 
yang berhijrah, yang pergi meninggalkan kesenangan dunia dan 
berangkat dalam rangka membela agama dan kehormatan kalian. 
Jadilah kaum Anshor terbaik bagi kaum muhajirin terbaik. Jangan 
pernah kalian kenyang sementara mereka lapar. Jangan pernah kalian 
tidur sementara mereka ketakutan. Berusahalah agar kalian termasuk 
mereka yang meraih kabar gembira agung itu, yaitu menjadi orang- 
orang yang disabdakan Nabi ||§: "Aku adalah bagian dari kalian, dan 
kalian adalah bagian dariku. A-ku adalah bagian dari kalian dan kalian 
adalah bagian dariku. " 



47 



Rosululloh $H bersabda: "Sesungguhnja kabilah Asj'ari, apabila ada di 
antara mereka yang menjanda karena perang atau ada keluarga di antara 
mereka jang kekurangan makanan di Madinah, mereka mengumpulkan 
semua jang mereka miliki dalam satu kain, setelah itu mereka 
membagikannja di antara mereka masing-masing dalam satu wadah jang 
sama. Maka mereka itulah golonganku dan aku adalah golongan mereka. " 

Dan sejarah kita tidak akan pernah mandul untuk melahirkan orang- 
orang seperti kaum Asy'arijyin tersebut. Setiap zaman ada pelaku dan 
tokohnya sendiri-sendiri. 

Berikut ini saya sampaikan contoh pengorbanan yang 
dipersembahkan demi membela agama ini. Sungguh pengorbanan 
yang setiap muslim akan membanggakannya, pelakunya adalah 
"singa" berasal dari keluar Zubai' murni, namanya: Al-Akh Al- 
Mujahid Abu Abdillah Az-Zubai'i. Ketika ikhwan-ikhwan berangkat 
melancarkan serangan Abu Gharib Pertama, Abu Abdillah 
termasuk mereka yang menyediakan rumahnya sebagai tempat bagi 
mujahidin. Namun Alloh mentakdirkan — karena ada hikmah yang 
Dia ketahui — rencana ikhwan-ikhwan tercium sebelum amaliyah 
dimulai. Maka mulailah pesawat-pesawat menggempur perumahan- 
perumahan mereka, akibamya sekitar dua puluh orang dari anggota 
keluarga Akh Abu Abdillah terbunuh — termasuk ayahnya dan 
beberapa saudaranya yang laki-laki maupun perempuan — . Akh Abu 
Abdillah kemudian memberikan contoh terindah bagaimana 
seseorang harus bersabar dan ber-ihtisab. Ketika saya hendak 
bertakziah (menghibur) dan mentabahkan hatinya, ia berkata: 
"Wahai Fulan, selagi engkau dan teman-teman muhajirin baik-baik 
saja, maka segala sesuatu setelah itu adalah ringan." Dengan logat 
kental Iraknya yang lembut, ia menambahkan: "Aku, keluargaku dan 
anak-anakku akan menjadi tumbal bagi para mujahidin." 

Maka jangan sampai musuh menghalangi kalian dari para muhajirin. 
Sungguh aku bersumpah demi Dzat yang kelak aku akan kembali 
kepada-Nya, jihad yang benar di Irak tidak pernah ada tanpa 
keberadaan para muhajirin, putera-putera umat yang dermawan, 
yang keluar dari kabilah-kabilah, yang membela Alloh dan Rosul- 

48 



Nya jl§. Maka jangan sampai kalian tidak mendapatkan mereka, 
sebab hilangnya mereka berarti hilangnya kekuatan kalian. Hilangnya 
mereka berarti hilang pula berkah dan kelezatan jihad. Maka 
sungguh kalian tidak bisa lepas dari mereka, sebagaimana mereka 
pun tidak bisa terlepas dari kalian. 

Dan jangan pedulikan kata-kata para mukhad^-d^ilun, yang menghias 
sikap lepas tanggung jawabnya dan pelemahan semangatoya dengan 
tampilan yang seolah syart Jika ada yang datang kepada kalian untuk 
meyakinkan perlunya melakukan perundingan dengan musuh, atau 
bergabung bersama dinas ketentaraan atau kepolisian, dengan alasan 
mashlahat, maka buatlah tuli telinga kalian dari kata-kata mereka, 
sapu bersihlah pintu rumah kalian dari jejak-jejak mereka, lalu 
ucapkanlah: Yd Muqolliba al-qulub, tsabbit qolbi 'ald dinika, wahai Dzat 
Yang Maha Membolak-balikkan hati teguhkanlah hati kami di atas 
Agama-Mu. Karena, sungguh, demi Alloh jika mereka bisa lari 
secepat apapun, kehinaan maksiat tetap tidak akan terlepas dari 
mereka. Alloh tidak menghendaki selain menghinakan siapapun yang 
bermaksiat kepada-Nya, setinggi apapun gelar mereka, sebanyak 
apapun ijazah mereka, dan semenjulang apapun nama mereka. 
Karena Alloh tidak menghendaki selain menghinakan siapa saja yang 
bermaksiat kepada-Nya. Alloh menjauhkan orang yang Dia 
jauhkan. . .Alloh menjauhkan orang yang Dia jauhkan. 

Wahai para mujahidin... 

Sesungguhnya Alloh gl bertirman: 

JLS dX^l j£>\ tjj ^J <-^ ^J <uJj J UjliL<J ^jt y> $\>r CJj 

&" ' . -> £ ' ' ° ' * ' ' 

LJi (Jtjj Lijl~i aJInJ* yLu-1 jU IlI=-«J1 ^Jl Joj\ ^j^Jj iJ\'j jJ 

Jli JjlJI \-*li MjLp t_S**y T* 'J 4lkir J^rJJ <bj (J^J 

J> - -■ -■ -■ 

(jCl* L«JI Jjl Ulj <LX^l C^-J ^J3\sxl^j 



49 



"Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktujang 
telah Kami tentukan dan Tuhan telah berprman (langsung) kepadanja, 
berkatalah Musa: 'Ya Robbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku 
agar aku dapat melihat kepada Engkau". Alloh berfirman: "Kamu sekali- 
kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, makajika ia tetap 
di tempatnya (sebagai sediakala) niscaja kamu dapat melihat-Ku. " Tatkala 
Robbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannja gunung itu 
hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar 
kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau 
dan aku orangjangpertama-tama beriman. " (Al-A'rof [7]: 143). 

Ini adalah keadaan gunung yang tuli, yang tidak pernah sekali pun 
bermaksiat kepada Alloh. Lalu bagaimana dengan diriku dan diri 
kalian? 

Diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Nabi kita, «§§, bahwa 
beliau bersabda: "Semua dari kalian akan diajak bicara oleh Robbnja, 
tidak ada perantara antara dirinya denganNja, lalu ia melihat ke kanan 
maka ia melihat apa jang pernah dia kerjakan, kemudian ia melihat ke kiri 
maka ia melihat apajang telah ia kerjakan, lalu ia melihat ke depan maka 
ternjata di sana ada Neraka, maka takutlah kalian akan api neraka 
meskipun melalui sedekah dengan sparuh biji kurma. " 

Bayangkanlah, wahai saudaraku dalam jihad, ketika nanti 
kamu berdiri di hadapan Dzat Yang Menciptakanmu, lalu Dia 
menanyaimu tentang amanah besar ini, apa kira-kira yang akan 
engkau perbuat? Siapkanlah jawaban untuk keadaan seperti ini. 
Demi Alloh, kalian semua musnah dan kalian korbankan semua 
yang ada, itu lebih baik bagi kalian di sisi Alloh daripada kalian 
berjumpa dengan-Nya dalam keadaan ridho terhadap hukum orang- 
orang salib dan orang-orang Raiidhah yang jahat itu. 

Semua ini hanyalah hari-hari, semuanya akan berlalu dengan manis 
pahitnya, dengan baik dan buruknya, setelah itu yang adalah: jika 
tidak surga atau neraka. 

Muslim meriwayatkan di dalam Shohih-nyn dari Anas g§S ia berkata: 
Nabi |§§ bersabda: "Bakal penghuni Neraka jang paling enak hidupnja 

50 



sewaktu di dunia akan dipanggil pada hari Kiamat, lalu ia dicelupkan sekali 
celup ke dalam Neraka, setelah itu dikatakan: 'Hai anak Adam, pernahkah 
engkau melihat sesuatujang bagus? Pernahkah satu kenikmatan menghampiri 
dirimu?' ia pun menjawab: Tidak demi AJloh, ja Kobb. ' Kemudian bakal 
penghuni Surga jang hidupnja paling sengsara sewaktu di dunia dipanggil, 
setelah itu ia dicelupkan sekali celup ke dalam Surga, kemudian ia ditanja: 
'Hai anak Adam, pernahkan engkau melihat kesusahan? Pemahkan 
kesusahan menimpa dirimu?' ia berkata: Tidak demi Alloh, ja Robb, tidak 
pernah ada satu kesedihan pun jang kualami, dan aku tidak pernah 
merasakan kesusahan. '" 

Neraka...ya seperti itulah keadaannya, adakah di antara kita yang 
sanggup bersabar menelan makanannya, meneggak minumannya, 
memakan buah zaqqumnya dan menahan hawa ^amharimya? 

Sesungguhnya malaikat Mikail tidak pernah bermaksiat kepada 
Alloh, bahkan dia adalah salah satu malaikat yang didekatkan, dia 
tidak pernah tertawa sejak neraka diciptakan. 

Di dalam kitab Lathoif al-Ma'drif tulisan Ibnu Rojab Al-Hanbali 
disebutkan: "Seorang budak perempuan milik Umar bin Abdul A^i^ 
datang dan bercerita bahwa dirinja bermimpi seolah-olah melihat titian Shirath 
telah dipasang di atas Jahannam, sementara Jahannam itu mendesis-desis 
mengumpat penghuninja. Budak itu berkisah bahwa dirinja melihat beberapa 
orang lewat di atas shirath tersebut lalu mereka disambar oleh api Neraka. Ia 
berkata: "Dan aku melihatmu, wahai Amirul Mukminin termasuk jang 
digiring... " maka serta merta Umar langsung pingsan beberapa lama dengan 
tubuh bergoncang sementara budak wanita itu berteriak di dekat telinganja: 
"Demi Alloh, aku melihat dirimu selamat. Aku melihat dirimu, demi Alloh, 
termasukjang selamat. " 

Sungguh umat ini telah mengirimkan putera-putera kesayangannya 
menuju Negeri Dua Sungai, sungguh putera-putera umat ini telah 
berlomba-lomba mengorbankan nyawa mereka dengan murah demi 
menjadi tumbal bagi agama ini dan demi membela kehormatan 
kaum muslimin, mereka torehkan potret pengorbanan, kebanggaan 
dan kejantanan terindah dengan darah-darah mereka. 



51 



Di antara singa-singa dan pahlawan yang muncul terakhir -dan 
bukan yang paling akhir — adalah seorang ulama mujahid: Abdulloh 
bin Muhammad Ar-Rosyud. Orang yang sangat menjadi momok 
bagi thoghut-thoghut di Jazirah Arab. Berkat anugerah dan karunia 
Alloh, Alloh menyelematkannya dari cengkeraman mereka, lalu ia 
pergi ke medan pertempuran dan peperangan untuk menjemput 
saat-saat mati syahid yang selalu ia minta dan ia harapkan, dan untuk 
memberikan contoh terindah dalam menerangkan kewajiban yang 
mesti ditunaikan oleh ulama. Memang, mata para pengecut tidak 
akan pernah bisa tidur. Jika kesyahidan dia membuat thoghut- 
thoghut keluarga Sa'ud (baca: Salul) senang, sungguh aku berharap 
Alloh menghidupkan jiwa-jiwa ulama lain dengan darahnya sehingga 
mereka mau berangkat langsung ke medan-medan jihad, supaya 
mereka menjadi teladan bagi putera-putera umat ini lalu mereka 
menjemput mati seperti Ar-Rosyud menjemput mati. 

Jangan lagi kulihat kamu menangis setelah kematianku 

Karena semasa hidup engkau telah memberi bekal kepadaku 

Wahai kalian yang sedang terlelap dalam kelalaian... 

Sungguh memalukan keadaan kalian, wahai orang-orang yang 
menyerah dengan keadaan, Islam dilecehkan, umat digiring bak 
kawanan domba, sementara kalian terlelap dalam tidur?! 

Bagaimana kalian membiarkan serigala tidur di tengah kawanan 
domba, sementara kalian merasa aman-aman saja? 

Baghdad bertanya kepada kalian, bukankah kalian memiliki 
kewajiban melindungi kehormatannya? 

Ke manakah orang-orang yang berkendaraan lari? Ke manakah para 
saudagar menghilang? Dan, ke manakah orang-orang yang kabur itu 
lari? 

Siapajang mau menjambut serangan hari ini, sementara kebanjakan manusia 

Bercerai berai antarajang lalai danjang terlelap tidur 

Di ufuk sana air mata umat terhimpun 

52 



Telah hilang keteguhan singa dari ufuk itu 

Bangsa-bangsa muslim berubah menjadi 

Kombongan-rombonganjang kebingungan atau ratapan-ratapan 

Penyeru-penjeru melongokkan leheranja di balik ufuk, 

Seraja berseru: "Setiap %aman itu diagungkan, " 

Dan menjeru kaum musliminjang telah lalai 

Di atas kebodohan mereka, mereka mereka dalam kebingungan dan keputus 
asaan 

Mengatakan kepada mereka: inilah medan-medan 'i^ah 

Maka terjunlah ke mari, wahai kaumjang menjajangkan darahnja 

Jika kalian cinta dunia, kalian akan ditimpa kehinaan 

Kalian akan merasakan kesulitan dan kepahitannya 

Apakah kalian biarkan leher-leher kaum muslimin untuk orang kafir, 

Dan kalian berikan tanah air kepada musuhjang tak bertelinga? 

Sesungguhnya putera-putera umat ini butuh akan lentera cahaya 
yang hidup, untuk menerangi jalan yang mereka tempuh. Berikut ini, 
lihatlah bagaimana seorang imam sebuah masjid di Irak, yang 
kebetulan dia orang yang buta matanya tapi hatinya bersinar terang 
benderang, ia datang kepada salah seorang komandan militer Al- 
Qaeda di Baghdad -ini terjadi pasca syahidnya Syaikh Abu Anas 
Asy-Syami $te — meminta menjadi pelaku operasi istisyhadiyah, 
maka dikatakan kepadanya: "Wahai Fulan, Alloh telah memberimu 
udzur." Maka ia menjawab: "Aku hanya ingin mencari syahid, 
semoga dengan itu AUoh memasukkanku ke Surga Firdaus tertinggi 
lalu aku bisa berkumpul kembali dengan Syaikh Abu Anas." 

Demi Alloh, sungguh darah syuhada adalah cahaya sekaligus api. 
Dan sesungguhnya kebenaran dakwah kami terbukti dengan 
terbunuhnya para ulama dan pemimpin-pemimpin kami. 



53 



Kafilah itu berlalu; ada syaikh Yusuf Al-'Uyairi, Syaikh Abu Anas 
Asy-Syami, Mujahid Umar Hadid, Singa Syam Abu Al-Ghodiyah, 
Singa Jazirah Arab Sulaiman Abu Al-Laits An-Najdi, Singa Ba'qubah 
Abu Sufyan Az-Zubaidi ...dan lain-lain dan lain-lain, di mana: 
"Umar tidak mengenal mereka, tetapi Robb Umar mengenal 
mereka." 

Tangisan membuat matamu kering dari air mata, 

mata orang lainjang air matanja memancar deras 

orangjang akan meminjamimu mata untuk kaupakai menangis 

Menurutmu, adakah matajang dipinjamkan untuk menanois? 



Dan kami sadar, bahwa akan muncul dari kalangan umat ini yang 
menggembar-gemborkan ucapan kaum munarikin pendahulu 
mereka, lalu mengatakan kepada orang yang berangkat berjihad dan 
Alloh muliakan dia dengan mati syahid: 



-orang jang mengatakan kepada saudara-saudara mereka sementara 
mereka sendiri duduk berpangku tangan: 'Jika mereka menuruti kami, tentu 
tidak akan terbunuh. . . '" (Ali 'Imron [3]: 168). 



Maka, kami jawab mereka dengan jawaban Alloh kepada mereka: 
"Katakanlah: tolaklah kematian dari diri kalianjika kalian termasuk orang- 
orangjang benar. " (Ali 'Imron [3]: 168). 

Ya Alloh, sesungguhnya dalam penilaianku Syaikh Abdulloh bin 
Muhammad Ar-Rosyud itu telah meraih keberuntungan bersanding 
di sisi-Mu, dan Engkaulah yang Maha Tahu akan keadaan dia 
sebenarnya. Dan sungguh Engkau Maha Tahu, Robbi, bahwa 
dengan kepergiannya aku telah kehilangan salah seorang ulama 
pejuang, yang tidak pernah merasa hidup tenang, yang menjadi 
pedang terhunus ke arah musuh-musuh-Mu yang kafir dan murtad. 

Ya Alloh, beri kami pahala atas musibah kami ini dan berikan kami 
ganti yang lebih baik. Ya Alloh, siapkanlah bagi kami ulama yang 
lebih baik darinya, yang mau menghidupkan panji jihad dengan 
darah dan tulisan penanya. 

54 



Ya Alloh, sesungguhnya Engkau Maha Tahu bahwa kami sedang 
berperang membela sebuah agama yang agung; agama-Mu dan 
Syariat-Mu ya Robbal 'Alamin. Oleh karena itu, Ya Alloh, jadilah 
penolong dan pemberi kemenangan bagi Kami, jalankanlah 
pengaturan untuk memenangkan kami karena sesungguhnya kami 
tidak pandai mengatur. 

Ya Alloh, sesungguhnya Engkau Maha Melihat apa yang menimpa 
wanita-wanita muslimah di Irak, dan Engkau Maha Tahu bahwa 
mereka tak lagi punya penolong selain-Mu, Ya Alloh kasihanilah 
orang-orang miskin itu. 

Aku bersumpah kepada-Mu dengan Nama-Mu Yang Agung, Aku 
bersumpah kepada-Mu dengan Nama-Mu Yang Agung: berikan 
kepada kami jalan keluar, segerakanlah kehancuran para penyembah 
salib, dan bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu kepada kami. 

Ya Alloh, siapa saja yang melakukan konspirasi untuk 
menghancurkan jihad ini, baik sembunyi-sembunyi atau terang- 
terangan, dan membantu menghancurkannya baik dengan sengaja, 
atau karena takwil, atau karena menyerah, ya Alloh timpakan 
kepadanya siksaan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa dan 
permalukanlah dia di hadapan segenap makhluk. 

Ya Alloh, siapa saja dari mereka yang berdiri untuk menghalangi dari 
agama-Mu karena riya', dan berusaha menghalangi bersatunya 
mujahidin dan kaum muslimin, ya Alloh panjangkanlah umurnya 
dan panjangkan pula kemiskinannya, dan timpakan kepadanya 
berbagai iitoah. 

Ya Alloh, timpakan doanya Sa'ad bin Abi Waqqosh kepadanya. . . 

Ya Alloh, timpakan doanya Sa'ad bin Abi Waqqosh kepadanya. . . 

Ya Alloh, timpakan doanya Sa'ad bin Abi Waqqosh kepadanya. . . 



55 



"Dan Allah memenangkan urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada 
mengetahuinya. " (QS. Yusuf: 21). 

Wal hamdulillahi Robbil 'Alamin. 



Abu Mush'ab Al-Zarqawi 

Amir Tandzim Al-Qaeda di Negeri Dua Sungai; Irak 



56 



LAMPIRAN 

Koreksi Syaikh Mujahid al-Zarqawi atas Pernyataan 
Syaikh al-Maqdisi di siaran televisi al-jazeera 



Segala puji bagi Alloh, yang memuliakan Islam dan pertolongan- 
Nya. Yang menghinakan kesyirikan dengan kekuatan-Nya. Yang 
mengatur semua urusan dengan perintah-Nya. Yang mengulur batas 
waktu bagi orang-orang katir dengan makar-Nya. Yang 
mempergilirkan hari-hari (kemenangan) antar umat manusia dengan 
keadilan-Nya, dan menjadikan hasil akhir sebagai milik orang-orang 
bertakwa dengan keutamaan-Nya. 

Sholawat dan salam terhatur selalu kepada Nabi Muhammad, 
manusia yang Alloh tinggikan menara Islam dengan pedangnya. 

Amma ba 'du. . . 

Sesungguhnya AUohm menguji hamba-hamba-Nya seiring 
berlalunya hari dan malam dengan berbagai macam cobaan dan 
bala', dalam rangka menguji, mencoba dan menyeleksi mereka. 

Alloh Ta'ala bertirman: "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan 
menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orangjang berjihad dan bersabar 
di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. " 

Di dalam Shohih Muslim disebutkan bahwa Allohlg bertirman 
kepada Nabi-Nya |f§: 

"Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menguji manusia 
denganmu. " 



57 



Dan lihatlah, ujian demi ujian menerpa negeri Dua Aliran Sungai 
secara silih berganti sejak para penyembah salib menginvasi negeri 
tersebut, yang mana mereka bermaksud menimpakan titnah kepada 
masyarakat dan menguasai tanah air, di bawah komando batalyon 
salibis terbesar yang pernah dikenal oleh sejarah zaman sekarang. 

Dan AllohSS telah memuliakan kami dengan memberi kesempatan 
untuk menempuh jalan jihad di jalan-Nya, demi membela agama- 
Nya dan meninggikan kalimat-Nya. Manusia membidik kami dari 
satu busur dan mengarahkan anak panahnya ke arah kami, mereka 
gunakan lidah mereka untuk memperburuk citra dakwah dan jihad 
yang kami lakukan, dan untuk membuat orang lari menjauhi kami. 

Kami terus berjalan sementara penghibur kami adalah sabda Nabi 
j|§: "...mereka tidak terpengaruh oleh orangjang mentelantarkan mereka, 
maupunjang menjelisihi mereka. " 

Yang menghibur dan meringankan kami dalam menanggung 
kesepian dan keterasingan yang kami rasakan dalam menempuh 
jalan kami ini adalah; para pengkritik langkah kami itu adalah 
penganut konsep yang rusak dan jalan tikiran yang batil. 

Di sisi lain, AUoh telah memuliakan para mujahidin dan wali-wali- 
Nya yang jujur, ketika Alloh memenangkan mereka dalam 
pertempuran pertama di kota Fallujah melawan pasukan koalisi. 
Maka Alloh hinakan musuh mujahidin dan memukul mundur 
mereka dalam keadaan merugi. 

Ketika para mujahidin tengah merasakan teduhnya kemenangan 
nyata ini, dan ketika mereka tengah menjalani hari-harinya, tiba-tiba 
ada yang memperkeruh suasananya dan melenyapkan kemanisannya. 
Sebuah "panah" baru kembali mengarah ke leher-leher kami. Tetapi 
kali ini bukan berasal dari orang-orang yang kami sebutkan sifatnya 
di muka, tetapi berasal dari seorang tokoh yang menisbatkan diri 
kepada konsep jihad dan termasuk ahli ilmu. "Panah" itu adalah 
artikel syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi — semoga Alloh 

58 



senantiasa menjaga beliau — berjudul: Al-Zarqawi: antara harapan dan 
keprihatinan, pembelaan sekaligus dukungan. 

Penyair berkata: 

Ke^aliman kerabat lebih menjakitkan 

bagi seseorang, daripada tebasan pedang 

Aku tidak akan pernah melupakan tangisan syaikh Abu Anas — 
rahimahulloh- ketika beliau melihat kesedihan terpancar di raut 
mukaku setelah aku membaca nasehat dalam artikel ini, karena di 
dalamnya berisi kezaliman, tidak melakukan tabajjun, dan pemutar 
balikan fakta. Beliau menghiburku dengan mengatakan: "Hai Fulan, 
sesungguhnya Alloh membela orang-orang beriman." 

Bukan berarti mengumbar rahasia ketika saya katakan bahwa tadinya 
saya mengira ini masalah kecil, sebentar lagi akan lurus sendiri, 
masalah ini hanya akan berhenti di situ. Akan tetapi ternyata syaikh 
Al-Maqdisi — hafidzohulloh — turut menyertakan kritikan ini dengan 
artikelnya yang berjudul: Waqofaat ma'a tsamroti ^l-jihad (koreksi atas 
hasil-hasil jihad selama ini), kemudian beliau menegaskannya dalam 
wawancara dengan Al-Jazeera tersebut, bahwa dalam hal ini dirinya 
berbicara atas pilihannya sendiri, tidak ada seorang pun yang 
menekannya. 

Dari sini saya melihat masalahnya sudah mulai keluar dari koridor 
nasehat dan pembelaan, dan nasehat yang dimaksud itu telah 
kehilangan arah dan jalan yang syar'i, di sana mulai nampak dampak- 
dampak ke depan yang lain, terutama dalam suasana rawan seperti 
sekarang-sekarang ini, di mana runtuhnya kekuatan pasukan 
penyembah salib mulai terlihat dengan jelas bagi setiap yang 
memiliki mata. Maka saya merasa berkewajiban untuk menjelaskan 
fakta-fakta yang ada dan mengoreksi beberapa kesalahan yang 
tercantum dalam nasehat dan wawancara dengan Al-Jazeera 
tersebut. Tetapi saya tidak mengoreksinya secara keseluruhan, sebab 

59 



itu akan membutuhkan catatan berlembar-lembar. 

Ma laa yudroku kullahu laa yuttoku jullahu (yang tidak bisa 
digapai seluruhnya, tidak perlu ditinggalkan sebagian 
besarnya) 

Semoga Alloh meluruskan saya dan menjaga saya dari kepentingan 
pribadi. 

Saya katakan, dan hanya dengan pertolongan Alloh saja aku 
mendapat tautik, kepada-Nya saja aku bersandar: 

Pertama: Koreksi saya akan berbicara seputar beberapa fakta yang 
terkait dengan metode jihad yang kami lakukan di Irak. Saya tidak 
akan memberi komentar tentang fakta di dalam nasehat Syaikh — 
hafidzohulloh — tentang hubungan saya dengan beliau dan kejadian 
yang pernah saya alami dengan beliau di masa lampau, karena saya 
melihat itu tidak membantu menjelaskan masalah yang sedang kita 
hadapi dan bahkan justeru memberi manfaat kepada musuh-musuh 
Islam. 

Kedua: Syaikh — hafidzohulloh — menyebutkan di bagian awal 
nasehatnya, bahwa dirinya sudah berusaha dengan sangat serius 
untuk menyampaikan banyak hal dari isi nasehat tersebut secara 
langsung kepada saya, akan tetapi belum berhasil -menurut beliau — 
akhirnya ia terpaksa mempublikasikannya secara luas. 

Kalaulah kita setuju dengan hal ini, lantas mengapa kata-kata yang 
sama kembali beliau sebutkan dalam wawancaranya dengan Al- 
Jazeera, kalau memang yang dimaksud adalah menyampaikan 
nasehat? Bukankah nasehat yang sama pernah beliau sampaikan 
kepada saya dalam suratnya? Juga, mengapa disampaikan di waktu- 
waktu seperti ini, yang hanya akan memberikan keuntungan kepada 
fihak salibis dan boneka-boneka murtad mereka? 

Ketiga: Syaikh — hafidzohulloh — menyebut-nyebut saya sebagai 

60 



orang yang pernah mengambil ilmu dari beliau, menggunakan nama 
besarnya sebagai syaikh, dan bahwa saya tidak pernah mengeluarkan 
pendapat kecuali dari pendapat beliau, tidak mengatakan kecuali 
ucapan dan pilihan beliau. 

Saya katakan: 

Tidak diragukan bahwa syaikh Abu Muhammad — hafidzohulloh — 
termasuk orang yang memiliki andil besar terhadap saya sebagai 
hamba yang fakir ini. Beliau memang salah satu nara sumber saya 
dalam menerima ilmu tentang tauhid dan rincian-rinciannya. Saya 
juga menganut keyakinan yang banyak diyakini Abu Muhammad. 
Akan tetapi yang harus dicatat, saya mengikuti beliau semata-mata 
didasari keyakinan bahwa apa yang beliau utarakan dan beliau tulis di 
dalam risalah-risalahnya itu sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah. 
Dan sikap saya itu bukan taklid buta semata. Seandainya saya 
mengikuti beliau hanya didasari taklid buta, tentu taklid kami itu 
lebih layak kami berikan kepada orang yang kedudukan dan ilmunya 
jauh lebih tinggi daripada beliau. Prinsip dakwah kita adalah 
mengikuti Al-Quran dan Sunnah, selanjutnya kita mengambil 
pendapat yang bersesuaian dengan keduanya dan membuang semua 
pendapat yang menyelisihi keduanya. 

Sebagaimana saya mengambil ilmu dari syaih Abu Muhammad - 
hafidzohulloh — , saya juga mengambil ilmu dari ulama lain; bukan 
berarti saya hanya mengikuti perkataan Al-Maqdisi saja. Ilmu 
tidaklah terkonsentrasi dalam diri beliau seorang, dan tidak semua 
perkataan Al-Maqdisi tepat serta harus diikuti; khususnya dalam 
masalah-masalah ijtihadiyah dan kasus-kasus yang terjadi di lapangan. 

Secara pribadi, dalam menjalankan jihad ini, saya tidak pernah berani 
menjalankan suatu urusan kecuali setelah dipandu oleh kaidah- 
kaidah syar'i; saya tidak berani menerapkan sebuah masalah sebelum 
saya meminta masukan dari para ulama yang jujur dan turut berjihad. 
Hanya Alloh yang tahu kalau hubungan saya terus terjalin dengan 
sebagian ulama yang ilmunya lebih tinggi dibanding Al-Maqdisi, di 

61 



mana saya selalu meminta fatwa kepada mereka dalam mayoritas 
kasus yang saya hadapi. Para ulama itu sekarang diuji dengan 
dipenjarakan di penjara-penjara thoghut. Kalau bukan khawatir akan 
membahayakan mereka, tentu akan saya sebutkan nama-namanya. 

Setiap orang yang mengenal saya -sebagai hamba yang fakir ini — , 
dan mengenal syaikh Abu Muhammad, baik di dalam atau di luar 
penjara, akan tahu secara yakin bahwa saya sering berbeda 
pandangan dengan beliau dalam banyak permasalahan. Khususnya 
masalah-masalah yang terkait dengan jihad dan amal jama'i. 
Kemudian sekeluarnya saya dari penjara dan saya memutuskan 
untuk berangkat ke medan jihad, saya tidak meminta saran terlebih 
dahulu kepada Abu Muhammad — hafidzohulloh — ; saya memiliki 
pandangan lain dengan Syaikh Al-Maqdisi -hafidzohulloh — dalam 
urusan membela agama ini. 

Seiring dengan ini, saya merasa sedih dan menyayangkan, mengapa 
kata-kata itu keluar dari seorang Abu Muhammad, yang salah satu 
prinsip dakwahnya adalah menghambakan manusia kepada Alloh; 
bukan kepada orang atau tokoh... yaitu kata-kata: "...saya sebagai 
syaikh, di bawah naungan nama kebesaran saya, mengambil manfaat 
dari nama saya." 

Wallohu l-musta 'an, hanya Alloh tempat meminta pertolongan. 

Apakah Anda semua pernah menjumpai dalam Al-Quran dan 
Sunnah, atau dalam sejarah para pendahulu kita; bahwa jika 
seseorang mengambil faedah dari seorang syaikh dalam ilmu 
tertentu, lalu orang itu menjadi "budak"-nya? yang kemudian ia tidak 
boleh menyelisihi ijtihadnya, atau menggunakan pendapat ulama 
selain dia? 

Keempat: Syaikh menyebut diri saya pernah memberikan syarat 
kepada syaikh Usamah — hafidzohulloh — untuk mau bekerja sama 
dengan beliau asal beliau mau menjadikan manhaj Abu Muhammad 
sebagai kurikulum pengajaran. 

62 



Saya katakan: perkataan ini sama sekali tidak benar, belum pernah 
saya duduk bersama syaikh Usamah -hafidzohulloh — khusus untuk 
menyampaikan urusan ini. 

Saya mau bertanya kepada syaikh Al-Maqdisi -hafidzohulloh — 
tentang perkataan beliau: Manhaj Abu Muhammad; apakah ini manhaj 
beliau pribadi yang sebelumnya belum pernah ada yang mendahului, 
ataukah manhaj yang mengikuti ulama lain dari kalangan para 
pendahulu kita yang sholeh? Jika jawabannya yang pertama, maka 
kita tidak perlu manhaj beliau, sebab agama kita adalah agama ittiba ' 
(mengikuti warisan salaf), bukan agama ibtida' (membuat manhaj 
baru), dan manhaj para pendahulu kita sudah cukup daripada 
memakai manhaj si fulan dan si fulan. Tetapi jika jawabannya adalah 
kedua -dan itu yang sepantasnya menjadi jawaban beliau — maka 
mengapakah beliau menisbatkan manhaj tersebut kepada dirinya? 
Padahal syaikh-syaikh di medan jihad di zaman kita sekarang juga 
menyerukan dakwah yang sama dengan yang diserukan Abu 
Muhammad, tetapi belum pernah kami mendengar satu pun dari 
mereka mengatakan: Ini adalah manhajku!! 

Saya tak habis pikir, bagaimana seorang syaikh Abu Muhammad 
melontarkan pernyataan seperti ini sebelum beliau men-crosscek 
berita itu kepada saya. Akibatnya muncullah pertanyaan-pertanyaan 
yang cukup membuat saya terusik; mengapa pernyataan ini keluar 
dalam suasana yang sangat sensitif seperti ini? Lebih-lebih saya 
sekarang berstatus sebagai salah satu tentara syaikh Usamah - 
hafizhohulloh. Apa manfaatnya? Dan siapa yang mengambil 
keuntungan dengan disampaikannya kisah itu sekarang? 

Kelima: Syaikh Abu Muhammad mengatakan bahwa saya mengikuti 
pendapat beliau mengenai tidak bolehnya melakukan operasi 
mencari mati syahid {amaliyah istisyhadiyah), kemudian beliau 
mengatakan bahwa di Irak sekarang saya terlalu longgar dalam 
membolehkan pelaksanaan amal istisyhadiyah ini. 

Saya katakan: Yang benar bukan seperti beliau katakan. Saya sudah 

63 



berpendapat tidak bolehnya melakukan aksi istisyhadiyah ketika saya 
masih di Afghanistan beberapa saat setelah invasi komunis ke negara 
tersebut. Hal ini karena saya mengikuti sebagian tokoh ketika itu, 
ketika saya belum pernah berjumpa dengan Al-Maqdisi. Begitu saya 
bertemu dengan beliau, keyakinan saya itu ternyata sesuai dengan 
pendapatnya. Kemudian ketika kami sama-sama keluar dari penjara 
dan saya pergi untuk kedua kalinya ke Afghanistan, saya berjumpa 
dengan syaikh Abu Abdillah Al-Muhajir. Terjadilah dialog antara 
kami mengenai hukum operasi mencari mati syahid. Ternyata syaikh 
Al-Muhajir berpendapat boleh, saya juga membaca tulisannya yang 
cukup menarik dalam masalah ini, di samping mendengarkan juga 
kaset-kaset ceramah beliau dalam masalah yang sama. Sejak itu Alloh 
melapangkan dada saya untuk menerima pendapamya. Saya tidak 
hanya berprinsip boleh, bahkan saya mulai melihat operasi seperti ini 
adalah sunnah. Ini, demi Alloh, barangkali termasuk berkah daripada 
ilmu dan perjumpaan dengan ahlinya. Akhirnya saya menjadwalkan 
semacam dauroh (seminar) syar'iyyah kecil-kecilan selama sepuluh 
hari di sebuah kamp latihan di propinsi Herat, yang materinya 
diampu oleh syaikh Al-Muhajir. Selama sepuluh hari itu beliau 
menerangkan masalah hukum amaliyah istisyhadiyah kepada para 
ikhwah, di mana penyampaian beliau cukup memberikan pengaruh 
dalam diri mereka. 

Kemudian, mengapa syaikh Abu Muhammad harus mengingkari 
perubahan ijtihad saya tentang hukum melakukan operasi seperti ini? 
Padahal beliau tadinya juga berpendapat itu haram, tetapi kemudian 
berpendapat boleh dengan beberapa syarat yang beliau letakkan. 
Bukankah akan lebih adil jika di samping menyebutkan perubahan 
ijtihad saya beliau juga menyebutkan perubahan ijtihadnya sendiri? 

Bukhori meriwayatkan secara mu'allaq, dan Ibnu Abi Syaibah 
menyambungkannya kepada shahabat Ammar 2i8> bahwa ia berkata: 
"Tiga hal yang siapa mengumpulkannya maka ia telah 
mengumpulkan iman: bersikap adil terhadap dirimu, berinfak ketika 
kondisi kikir, dan mengucapkan salam kepada orang alim." 



64 



Keenam: Syaikh — hafidzohulloh — menyatakan bahwa saya 
menamai kelompok saya saya dengan "Jamaah Tauhid wal Jihad" 
karena mengacu kepada nama website yang beliau kelola, yaitu: 
Mimbar Tauhid wal Jihad." 

Kami menyayangkan mengapa beliau mengkritik penamaan 
kelompok kami dengan nama tersebut? Apakah nama itu hanya 
monopoli satu orang saja? 

Rasa heran saya semakin tak berujung, bagaimana kata-kata seperti 
ini keluar dari seorang Abu Muhammad — hafidzohulloh — ? Memori 
saya berputar kembali untuk mengingat masa-masa ketika kami 
saling memotivasi satu sama lain dalam dakwah dan berbagai fitnah 
yang kami terima dari tokoh-tokoh Murjiah dan Jahmiyah; seperti 
Ali Al-Halabi dan lain-lain, yang kerjanya mengklasitikasikan 
manusia berdasarkan sejalan tidaknya manusia tersebut dengan 
pemikiran mereka. Siapa yang sejalan berarti dia pengikut salaf, siapa 
menyelisihi berarti dia ahli bid'ah. Ketika itu Syaikh Al-Maqdisi — 
hafidzohulloh — selalu menyatakan bahwa salajijah bukan "kantor 
perwakilan khusus", bukan pula "perusahaan saham" yang hanya 
boleh dimonopoli orang-orang tertentu sementara yang lain dilarang 
ikut di dalamnya. Lalu mengapa Syaikh Al-Maqdisi - 
hafidzohulloh — hari ini justeru terjerumus ke dalam perkara yang 
beliau kritik orang lain di masa lampau? 

Seandainya saya membentuk sebuah kelompok dan menamainya: 
JAMAAH SALAFIYAH LI 'D-DAKWAH WA ~L-QITAL FI 1- 
IROQ, apakah berarti harus ada penisbatan kepada ikhwan-ikhwan 
di Aljazair — semoga Alloh melindungi mereka — ? 

Banyak sekali para ulama kita yang menulis berbagai karya dengan 
judul sama, namun belum pernah kita mendengar yang satu 
menyalahkan yang lain. Contohnya adalah kitab A^-Zuhd, ada yang 
tulisan Ibnu '1-Mubarok, ada yang tulisan Ibnu Abi 'Ashim, Ahmad 
bin Hanbal dan Baihaqi. Demikian juga kitab Ahkamu ^l-Qur'an, ada 
yang tulisan Al-Jashosh, ada yang tulisan Ibnu "1-Arobi. Kemudian 

65 



Fathu ^I-Bari, ditulis oleh Ibnu Rojab disamping ditulis oleh Ibnu 
Hajar Al-'Asqolani, dan masih banyak contoh kitab yang lain. 

Memang, bisa jadi benar jika kami menamakan kelompok kami 
dengan Jamaah Tahuid wal Jihad karena terinspirasi oleh Mimbar 
Tauhid wal Jihad, atau mengikuti Mimbar Tauhid wal Jihad, atau 
yang mengikuti Syaikh Al-Maqdisi — hafidzohulloh — , atau mengikuti 
syiar dari Mimbar itu sendiri, atau alasan serupa lainnya. 

Pertanyaan yang dengan sendirinya muncul dan selalu mengusik 
orang yang mendengar statemen beliau ini adalah: Apa maksud 
menceritakan permasalahan seperti ini, dan mengulang-ulangnya 
dalam setiap kesempatan, padahal kelompok bernama Jamaah 
Tauhid wal Jihad kini tinggal kenangan dan sekarang kelompok 
tersebut sudah beratiliasi di bawah bendara Tandzim Al-Qaeda? 

Ketujuh: Syaikh — hafidzohulloh — menyatakan tak sependapat 
dengan aksi peledakan gereja dan membunuh warga sipil. 

Saya katakan: Saya tidak mengerti dari mana Syaikh mengambil 
sumber berita, dari mana beliau menerima data-datanya? Padahal, 
sudah kami nyatakan secara gamblang di dalam kaset berjudul: Wi'ad 
Ah/aadi Ibni "l-'Alqomi, bahwa kami sama sekali tidak menjadikan 
warga sipil dari kelompok Kristen atau yang lain sebagai target 
serangan. Di antara pernyataan kami di dalam kaset tersebut: 

"Di negeri Dua Aliran Sungai terdapat banyak sekte. Ada sekte 
Shobi'ah, ada Yazidiyyun para penyembah setan, Kaldaniyyun dan 
Aasyuuriyyun. Kami sama sekali tidak akan menyakiti mereka, kami 
tidak akan mengarahkan tembakan kami ke arah mereka, meskipun 
mereka adalah kelompok yang sama sekali tidak memiliki hubungan 
dengan Islam. Tetapi kami belum melihat mereka ikut bekerjasama 
dengan tentara salib dalam memerangi Mujahidin dan tidak juga 
memainkan peran memalukan seperti yang dimainkan kaum Syiah 
(Rotldhoh). 



66 



Kedelapan: Syaikh menyayangkan perang yang kami lancarkan 
kepada kaum Syiah (Roiidhoh), beliau juga berpendapat bahwa 
kalangan awam Syiah sama dengan kalangan awam Sunni. 

Saya katakan: Mengenai perang yang kami lancarkan kepada 
Rohdhoh, kami berulang-ulang menyatakan — khususnya dalam kaset 
tadi — bahwa kami bukan pihak yang memulai, bukan pula yang 
pertama kali membidikkan tembakan. Merekalah yang pertama kali 
memberangus kader-kader Ahlus Sunnah (Sunni), memaksa mereka 
mengungsi, menginjak-injak masjid dan rumah-rumah mereka. 
Kebiadaban milisi Badar masih segar dalam ingatan kita, terlebih lagi 
mereka menggunakan seragam polisi dan aparat keamanan nasional 
dalam melakukan aksinya. Dan sebelum semua ini, mereka telah 
memberikan kesetiaan (m>ala)-nya kepada tentara salib. Maka setelah 
semua fakta ini, masihkah kami memiliki alasan untuk tidak 
memerangi mereka? 

Adapun pendapat bahwa kalangan awam Syiah sama dengan 
kalangan awam Sunni, maka demi Alloh ini adalah sebuah 
kedzaliman terhadap kaum awam Sunni. Samakah orang yang 
prinsip dasar keyakinannya adalah tauhid, dengan orang yang prinsip 
dasar keyakinannya adalah memohon pertolongan kepada Husain 
dan Ahli Bait? Perbuatan mereka di Karbala dan tempat-tempat lain 
bukan menjadi rahasia lagi bagi setiap yang memiliki mata. Ini 
ditambah keyakinan mereka bahwa para imam mereka berstatus 
ma'shum (terjaga dari kesalahan), meyakini bahwa para imam itu 
mengetahui yang ghoib dan turut mengendalikan alam semesta, dan 
masih banyak lagi kesyirikan-kesyirikan yang sebenarnya siapa pun 
tidak bisa beralasan untuk tidak mengetahui ilmunya. 

Samakah orang yang prinsip utamanya ridho kepada sahabat Nabi 
|§§, dengan orang yang prinsip utamanya membenci sahabat bahkan 
melaknat mereka, terutama dua sahabat: Abu Bakar dan 'Umar gigg, 
serta menuduh Ash-Shiddiqoh Aisyah 0& berbuat keji? Demi 
Robbku, tidaklah keduanya sama. 



67 



DemiAlloh keduanya tidak sama dan tidak akanpernah bertemu 

Sampaijambul burunggagak beruban sekalipun 

Kemudian, bagi yang mengamati kondisi kaum Syiah di Irak, secara 
yakin akan menyimpulkan bahwa mereka bukanlah masyarakat 
awam seperti yang Anda maksud. Sebab kini mereka berubah 
menjadi balatentara pasukan katir penjajah dan memata-matai 
mujahidin yang jujur. Mungkinkan Ibrohim Ja'fari dan Al-Hakim 
serta tokoh Syiah lainnya bisa mencapai kursi kekuasaan tanpa suara 
yang mereka berikan? Adalah tindakan dzolim ketika seseorang 
menggunakan fatwa Ibnu Taimiyah tentang zamannya, kemudian 
menerapkannya untuk fakta kaum Syiah hari ini (tanpa melihat 
perbedaan-perbedaan dari dari dua masa itu). Di samping itu, ada 
beberapa ulama yang menyatakan karirnya pengikut sekte Syiah 
Rotidhoh secara perorangan, di antaranya adalah Syaikh Hamud Al- 
Uqola — rahimahulloh — , Syaikh Sulaiman Al-Ulwan dan Syaikh 'Ali 
Al-Khudhoir — semoga Alloh membebaskan mereka dari penjara — , 
Syaikh Abu Abdillah Al-Muhajir, Syaikh Ar-Rosyud - 
rahimahullah — dan lain-lain. 

Kesembilan: Syaikh Al-Maqdisi -hafidzohulloh — menyatakan 
dirinya tidak menganjurkan para pemuda yang mau berjihad untuk 
pergi ke Irak, sebab itu justeru hanya akan "menghanguskan" 
mereka — demikian istilah beliau — . 

Ini -demi Alloh — adalah musibah besar. Logiskah fatwa seperti ini 
keluar dari orang sekelas Abu Muhammad? "Menghanguskan" yang 
bagaimana yang Anda maksud, wahai Syaikh yang Mulia? 

Penghangus yang paling menghanguskan adalah berpaling dari 
hukum AUohlB yang memerintahkan untuk berangkat ke medan- 
medan jihad. Alloh Ta'ala bertirman: "Berangkatlah berperang, baik 
dalam keadaan ringan atau berat. . . " 

Sesungguhnya penghangus adalah meninggalkan perbuatan yang 

68 



disepakati oleh umat Islam, yaitu wajibnya membantu orang-orang 
muslim tertindas, yang diserang oleh musuh mereka, yang menjajah 
negeri mereka dan memperkosa kehormatan mereka. Alloh Ta'ala 
bertirman: ". . . dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam 
(urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan. . . " 

Penghangus adalah berpangku tangan dari membebaskan kaum 
muslimin yang ditawan di penjara Abu Ghorib, Guantanamo dan 
lain-lain. 

Penghangus adalah mentelantarkan pembebasan saudari-saudari kita 
yang suci dan bersih, yang kehormatan mereka direnggut setiap saat 
oleh kaum salibis dan Syiah Rotidhoh pendengki, di depan 
penglihatan dan pendengaran seluruh masyarakat dunia. 

Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqofi saja -yang merupakan salah satu 
penguasa tiran dan kejam — ketika mendengar berita ada wanita 
muslimah yang ditawan di India berteriak: "Wahai Hajjaaj...!", ia 
langsung menjawab: "Aku sambut panggilanmu, aku sambut 
panggilanmu." Lalu ia membelanjakan dana sebesar tujuh juta 
dirham hingga akhirnya berhasil menaklukkan India dan 
membebaskan wanita itu serta memperlakukannya dengan baik. 

Bukankah konsekwensi mengambil tatwa beliau ini adalah 
meninggalkan jihad dan membiarkan tanah air kaum muslimin 
dikuasai para penyembah salib, sehingga mereka bisa berbuat apa 
saja terhadap kaum muslimin? 

Sungguh, berangkat ke medan jihad tidak akan menyegerakan ajal 
dan tidak menjauhkan rezeki. Nabi JH bersabda: "Sesungguhnya Ruhul 
Qudus (Jibril) membisikkan dalam jiwaku, bahwa suatu jiwa tidak akan 
mati sebelum ia menyempurnakanjatah re^eki dan ajalnya. " 

Lihadah Kholid bin Walid ^> , beliau terjun dalam lebih dari seratus 
pertempuran, tetapi setelah itu beliau — Radhiyallohu Anhu — justeru 
meninggal di atas tempat tidurnya. 

69 



Maka dari itu, saya sarankan kepada kaum muslimin untuk 
mengabaikan fatwa Syaikh ini, yang menyatakan bahwa 
keberangkatan para pemuda Islam dalam rangka membela 
agamanya, melindungi kesucian dan kehormatannya, adalah 
penghangus. Dalam hal ini jelas beliau menyelisihi ijmak umat Islam 
tentang masalah mengusir musuh yang menyerang. Hendaknya 
kalian berpegang kepada para ulama mujahidin dan para komandan 
mereka. Perhatikan Syaikh Usamah bin Ladin yang berpendapat 
bahwa kalian (di Irak) sedang berada di daerah perbatasan musuh 
yang sangat bernilai agung, bahkan beliau bersumpah jika 
menemukan jalan untuk pergi ke Irak beliau tidak pernah ragu untuk 
berangkat. Demikian juga Syaikh Ayman Adz-Dzowahiri, beliau 
berpendapat perang kalian (di Irak) adalah kewajiban. Juga Syaikh 
Sulaiman Al-'Ulwan, Syaikh Abu Abdillah Al-Muhajir, Syaikh Abu 
Laits Al-Libbi, Syaikh Abdulloh Ar-Rosyud -Rahimahulloh — , 
Syaikh Yusuf Al-'Uyairi -Rahimahulloh — , Syaikh Hamd Al- 
Humaidi dan lain-lain. Mereka semua berpendapat bahwa jihad di 
Irak termasuk kewajiban yang paling utama. Jadi, referensi kita 
adalah Al-Quran dan Sunnah, maka apa saja yang sesuai dengan 
keduanya kita ikuti, dan apa yang menyelisihi keduanya kita tolak, 
meskipun yang menyelisihi itu adalah manusia paling berilmu, dan 
meski pun di saat yang sama kami tetap menghormati kedudukan 
dan keilmuannya. 

Demi Alloh, wahai Abu Muhammad, seandainya seluruh umat Islam 
menghadang dan mengatakan: Jihad di Irak adalah penghangus, aku 
tetap tidak akan menuruti mereka dalam masalah ini, kecuali jika 
mereka menunjukkan dalil yang jelas. Bagaimana tidak, sementara 
kitab Alloh dengan begitu gamblang mengatakan kebenaran kepada 
kita, Alloh bertirman: 



gapa kamu tidak mau berperang di jalan Alloh dan (membela) orang- 
orang jang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak jang 
semuanja berdoa: "Ya Robb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini jang 
^alim penduduknja, dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah 



70 



kami penolong dari sisi Engkau!. " 

Alhamdulillah-nya. kita bukan orang Rofidhoh, sehingga kami akan 
menutup telinga kami dan membutakan penglihatan kami, serta 
mengikuti refensi pendapat kami tanpa didasari petunjuk dan ilmu. 
Bukankah tatwa beliau ini -apalagi di saat kekalahan tentara 
Amerika mulai terlihat begitu jelas — hanya akan menjadi sarana 
untuk menyelamatkan Bush dan para pengikutnya, entah kita sadari 
atau tidak, dan kita sengaja atau tidak? 

Saya tidak menemukan bantahan lebih bagus selain perkataan beliau 
sendiri ketika beliau memberikan pengantar terhadap buku berjudul 
]u'natu ^l-Muthibin tulisan Syaikh Abu Qotadah -hafidzohulloh — , di 
mana beliau mengatakan: "Kita tidak boleh menjadi batu penghalang 
dengan menyampaikan fatwa atau hukum yang berpandangan 
pendek, yang tidak menyentuh tujuan-tujuan utama syariat dan tidak 
berdasarkan pengetahuan tentang kondisi realita kaum muslimin; 
sehingga kita menghalangi orang dari setiap peperangan atau jihad 
yang sedang tegak di bumi, yang dilakukan untuk mengusir serangan 
terhadap kaum muslimin tertindas atau tempat-tempat suci mereka, 
dengan alasan jihad tersebut mengandung unsur-unsur kesalahan 
dan penyimpangan. Wahai hamba Alloh, jika engkau memang 
menginginkan jihad yang betul-betul robbani yang bebas dari kotoran 
dan syubhat-syubhat tersebut, dan engkau menyayangkan nyawamu 
untuk kau korbankan selain untuk jihad seperti ini, silahkan saja. 
Tidak ada yang boleh melarangmu. Sebab nyawa itu hanya satu, 
tidak ada cadangan lain untuk coba dikorbankan di suatu tempat, 
kemudian pindah ke tempat lain, kemudian ke tempat lain. Hanya 
saja, jangan sampai dirimu menghalangi orang lain untuk melakukan 
jihad yang terkadang dibolehkan -atau bahkan diwajibkan — oleh 
syariat hanya karena di dalam jihad itu ada beberapa kesalahan dan 
perbuatan tidak pantas. Bahkan lebih jauh saya katakan: Jangan 
sampai kamu menghalangi orang lain untuk memerangi musuh- 
musuh Alloh, walau pun mereka yang berperang berasal dari 
kalangan orang-orang yang tidak begitu istimewa, atau tidak berada 



71 



di atas jalan orang-orang beriman. 

Bukankah kesadaran tentang jalan orang-orang pendosa dan 
kematangan dalam memahami realita yang dihadapi kaum muslimin 
tidak akan tercapai kalau kita tidak ikut serta menyokong aksi 
perlawanan mereka, dan kita tidak menjadi batu penghalang dalam 
medan-medan pertempuran seperti ini? 

Lagi pula, apa alasan untuk menyeret para pemuda yang 
bersemangat itu untuk menjadi lemah dan menghalangi mereka dari 
mengikuti aksi perlawanan seperti ini? Benarkah karena dorongan 
nasehat kepada orang yang berhak menerimanya? Sungguh nasehat 
itu bisa disampaikan tanpa harus melemahkan semangat mereka, 
atau mengecilkan nilainya, atau nilai darah yang masih terus mengalir 
di sana." Demikian perkataan beliau. 

Terakhir, dalam rangka mengamalkan sabda Nabi jl§: "Agama adalah 
nasehat. . . " saya katakan kepada Syaikh -hafidzohulloh — : "Tulisan 
Anda yang Anda anggap sebagai pembelaan dan nasehat itu, 
sebenarnya sama sekali bukan pembelaan. Anda telah menyebutkan 
perkara-perkara yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan 
nasehat, yaitu menyebutkan fakta-fakta dan posisi-posisi dalam 
sejarah dakwah kita. Bahkan sayangnya lagi, Anda tidak berusaha 
adil dalam menilainya serta tidak berusaha menyebutkannya secara 
terperinci. Perlu Anda ketahui, wahai Abu Muhammad, saya bisa 
mengkritisi banyak kesalahan-kesalahan yang Anda sebutkan, 
dengan kekuatan maksimal. Akan tetapi kekuatan dan sikap keras itu 
biarlah saya simpan sebagai persediaan menghadapi musuh-musuh 
agama ini, bukan menghadapi saudara-saudaraku sendiri. Dan inilah 
yang diperintahkan Robb kita -Tabaroka wa Ta'ala — kepada kita; 
"Muhammad itu adalah utusan Alloh, dan orang-orangjang bersama dengan 
dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama 



Dan saya ingin sekedar menyampaikan kabar gembira kepada Anda, 
Abu Muhammad; kaum penyembah salib, kaum sekuler, Rohdhoh, 

72 



Hizb Islami, Jahmiyah dan Murjiah di Irak mulai membagi-bagikan 
artikel pembelaan Anda ini kepada masyarakat, sehingga 
menghalangi mereka untuk bergabung bersama barisan mujahidin. 

Perlu Anda ketahui juga, wahai Syaikh kami yang mulia, tak lama 
setelah wawancara Anda dengan Al-Jazeera, musuh-musuh Alloh 
dari kalangan sekuler dan kaum munatik umat Islam mulai melewati 
malam terbaik. Lihatlah si kaki tangan keluarga Salul, Al-Awaji, 
menyampaikan pesan atas perintah atasan-atasannya: bahwa Al- 
Maqdese telah berubah tikiran dan perpecahan akan segera muncul 
di tubuh para mujahidin. 

Al-'Awaji adalah orang yang keluar di saluran televisi pada saat 
terbunuhnya Al-Muqrin — semoga Alloh merahmatinya dan 
meninggikan derajatnya — untuk memberikan pembelaan kepada 
thoghut, ia mengatakan terhadap Al-Muqrin dan Syaikh Al-'Uyairi — 
semoga Alloh merahmati mereka berdua — : "Kalian sekarang berada 
di negeri kebenaran (akhirat), apa yang akan kalian katakan kepada 
Alloh ketika Dia menanyai kalian tentang nyawa-nyawa yang 
terlindungi darahnya yang terhilangkan akibat ulah tangan kalian?" 

Jika aku yang ditanya tentang itu, aku akan katakan bahwa orang- 
orang itu telah memutar balikkan perkataan saya, saya tidak 
bermaksud membunuh orang-orang yang mereka nilai itu 
(pernyataan ini sama dengan penjelasan terakhir Anda dalam harian 
tersebut). 

Maka saya katakan: Semoga Alloh memaatkanmu, wahai Abu 
Muhammad, kapankah harian berita dan saluran seperti Al-Jazeera 
itu menjadikan tujuannya adalah membela kebenaran dan 
pengikutaya? Padahal Anda sendiri yang menunjukkan kepada kami 
tentang jalan yang ditempuhnya. 

Mengapa Anda tidak mau menunggu beberapa saat sampai berita 
tentang kondisi yang kami alami sampai kepada Anda dengan jelas? 
Setelah itu silahkan Anda memilih cara-cara syar'i yang Anda 

73 



kehendaki dalam memberi nasehat. Kemudian apa yang benar, 
niscaya akan kami ambil dan praktekkan. Sedangkan yang tidak 
benar, kami akan menjelaskan cara pandang kami secara syar'i dan 
ijtihad kami sesuai kondisi lapangan yang kami alami, di mana Anda 
tidak mengetahuinya karena keberadaan Anda yang jauh dari 
lapangan tersebut. 

Perlu Anda ketahui juga, wahai Syaikh kami yang mulia, bahwa 
masalah ini tidaklah terlalu menggangguku seperti mengganggunya 
terhadap urusan jihad. Sebab saya hanyalah salah satu anggota kaum 
muslimin, yang barangkali sebentar lagi akan memenuhi panggilan 
Robbku. Tetapi yang sangat-sangat saya sedihkan adalah dampaknya 
terhadap jihad yang kini sedang berlangsung; yang berkahnya mulai 
nampak bagi setiap yang memiliki mata, bangunan jihad ini akan 
dirobohkan. Jika itu terjadi -kita berlindung kepada Alloh — maka 
Anda punya andil besar di dalamnya. Saya memohonkan 
perlindungan kepada Alloh untukmu jika engkau sampai mengikuti 
langkah-langkah setan, sehingga Anda akan binasa. Berhati-hatilah, 
wahai Syaikh kami yang mulia, dari makar musuh-musuh Alloh. 
Waspadalah, jangan sampai mereka menggiring Anda setahap demi 
setahap untuk memecah belah barisan mujahidin. 

Apakah Anda tidak menyadari, betapa besar perhatian mass media 
terhadap wawancara yang tidak tepat timing dan isinya ini? 

Tidak pernah terbetikkah di dalam benak Anda bahwa "corong 
pemberitaan bayaran" itu tidak akan pernah berusaha menampakkan 
kebenaran dan menyerang kebatilan? 

Pembawa acara yang mengadakan wawancara dengan Anda tampil 
di hadapan kami dalam acara: Ma waro'a ^l-khobar (Inside Story), ia 
mengatakan: "Aparat keamanan menghubungi Syaikh Al-Maqdisi 
sementara saya ada di sampingnya, mereka meminta beliau 
melakukan wawancara dengan sebuah stasiun televisi." Taukah 
Anda apa maksud kata-kata ini, wahai Syaikh kami yang mulia? 



74 



Tahukah Anda, bekas apa yang akan ditinggalkan oleh kata-kata ini 
dalam benak kaum muslimin? 

Ketahuilah wahai syaikh kami yang mulia: 

Terkadang saya masih meragukan kapasitas agamaku, akan tetapi 
aku sama sekali tidak meragukan kapasitas agama Anda. Namun, 
wahai Abu Muhammad, mengapa Anda lupa dengan hadits Shohyah 
berikut ini? 

"Dari 'Ali bin Husain, bahwasanya Nabi -|§ bersama isteri- 
isterinya di masjid. Kemudian masing-masing dari mereka 
pulang, maka Nabi «§§ bersabda kepada Shofiyah: "Jangan 
terburu-buru, aku akan pergi mengantarmu." Kebetulan 
rumah Shofiyah ada di perkampungan Usamah. Akhirnya 
Nabi «§§ pergi bersama Shofiyah, tiba-tiba beliau berpapasan 
dengan dua orang shahabat Anshor. Mereka melihat ke arah 
Nabi H| lalu mempercepat langkahnya. Maka Nabi H§ 
mengatakan kepada mereka: "Kemarilah, ini adalah ShoGyah 
binti Huyaiy." Mereka berkata: "Subhanalloh, wahai 
Rosululloh." Kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya 
setan mengalit pada diti anak Adam pada aliran datah, dan 
aku khawatir setan membisikkan sesuatu dalam dirikalian. " 

Mengapa Anda memberi kesempatan kepada musuh untuk 
menyerang saudara-saudaramu sendiri? Hasbunalloh wa ni'ma T 
Wakil. 

Sebelum diakhiri, tetap harus saya katakan: Syaikh Al-Maqdisi — 
hafidzohulloh — termasuk orang yang harus dihormati hak dan bala' 
yang pernah beliau alami, beliau adalah orang yang harus kita 
berbaik sangka kepadanya, beliau adalah orang yang paling layak 
diterima udzurnya dan dimaafkan ketergelincirannya. Dan menurut 
saya, tidak ada seorang muwahid pun di zaman sekarang kecuali 
Syaikh Al-Maqdisi memiliki peran lebih terhadapnya. Bukan berarti 
ketika beliau menyatakan pendapat tidak benar dalam suatu masalah, 

75 



kemudian terhapus kedudukannya, keilmuannya dan perintisan 
beliau dalam menapaki dakwah ini serta cobaan yang beliau alami. 

Dan kalau bukan karena rawannya ucapan yang beliau katakan dan 
dampak yang akan ditimbulkannya terhadap jihad dan mujahidin, 
tentu jawaban saya ini tidak perlu ada. 

Semoga Alloh memaatkan saya dan beliau, mengampuni saya dan 
beliau, menutup akhir kehidupan saya dan beliau dengan kebaikan, 
dan tidak memberi kesempatan bagi musuh-musuh-Nya untuk 
mencelakai kami dan beliau. 

Dan limpahkanlah sholawat, Ya Alloh, kepada Sayjidina Muhammad, 
kepada keluarga dan seluruh sahabatoya. 



Abu Mush'ab Al-Zarqawi 
Amir Tanzimu "L-Qo'idah Fi Biladi "R-Rofidain 



" Jangan Engkau Mencari Keuntungan 

Dunia Dari Karya Seorang Mujahid, Kecuali 

Engkau Tasarruikan ( Salurkan) Kepada 

Jihad Fie Sabilillali 



76